Minggu, 16 Agustus 2026

Filosofi Kehidupan dalam Gerak Tari: 9 Tarian Otentik Kayan Umaq Lekan Hipnotis Pengunjung Festival UFAH 2026

KOMBENG — Panggung utama Festival Budaya UFAH 2026 di Taman Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, berubah menjadi ajang penuturan kisah kehidupan leluhur yang anggun dan sakral, Minggu (9/8/2026). Ratusan pasang mata terpukau menyaksikan pementasan sembilan tarian otentik Kayan Umaq Lekan, sebuah warisan budaya yang tak hanya memikat secara visual, tetapi juga sarat dengan filosofi hubungan manusia, alam, dan Pencipta.

Kesembilan tarian ini dipentaskan secara berurutan untuk merajut narasi utuh mengenai perjalanan kehidupan masyarakat Kayan—mulai dari ungkapan syukur, keberanian di medan perang, masa pascapanen, hingga simbol perdamaian dan kemakmuran.

Setiap tarian yang dibawakan memiliki makna dan momentum adat tersendiri:

  • Tarian Hudog Aruq (Bateang Bu-eang): Pembuka ritual sebagai ungkapan rasa syukur mendalam kepada roh leluhur atas limpahan berkat satu musim.

  • Tarian Hifan Sau & Hifan Seang: Pasangan tarian pria dan wanita yang melambangkan kegembiraan serta kemenangan atas berbagai persoalan hidup.

  • Tarian Jat Alat: Penanda berakhirnya masa berkabung (lumuh) dan kembalinya sukacita masyarakat dalam pesta pascapanen (Ka-uh Tupuh Duman Lebau).

  • Tarian Hudog Kitaq & Hudog Kuhau: Manifestasi ritual pertanian untuk menyambut Sang Dewi Padi sekaligus menghalau hama tanaman ladang.

  • Tarian Hudog Kap (Kusap Nga-eang): Tarian sakral dengan topeng kulit kayu trap yang dibawakan 10 wanita sebagai penghormatan duka atas pahlawan yang gugur.

  • Tarian Tingeang Urip (Enggang): Simbol kebesaran, kemuliaan, dan persatuan masyarakat Dayak.

  • Tarian Manuk Inuq: Puncak penutup yang melambangkan pencapaian kehidupan yang makmur, damai, dan berlimpahan.

Penampilan sembilan tarian otentik ini menegaskan posisi Desa Miau Baru sebagai salah satu benteng pertahanan kebudayaan Dayak di Kutai Timur. Tidak sekadar menjadi tontonan estetik, perhelatan Festival UFAH menjadi ruang edukasi penting agar generasi muda tidak kehilangan akar budayanya di era modernisasi.

Lewat paduan gerak, irama musik tradisional, serta busana adat yang otentik, masyarakat Kayan Umaq Lekan sukses menyampaikan pesan bahwa tradisi leluhur akan terus hidup dan relevan menembus batas zaman.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Widget Indeks

Wabup Kutim Mahyunadi saat senam bersama PGRI dalam kegiatan Jalan Sehat PGRI. Foto: Lintang/Pro Kutim *Jalan Sehat PGRI Kutim, Semangat Guru untuk Terus Berkarya dan Berinovasi* SANGATTA – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menggelar kegiatan jalan sehat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) sekaligus Hari Guru Nasional (HGN) 2026. Kegiatan berlangsung di Halaman Kantor Bupati Kutim, Sabtu (8/8/2026) pagi. Mengusung tema “Guru Sehat, Kreatif dan Inspiratif Menuju Indonesia Hebat”, kegiatan tersebut diikuti keluarga besar PGRI Kutim, para guru, tenaga kependidikan serta peserta dari sejumlah kecamatan. Kegiatan diawali dengan senam bersama dan pembukaan, kemudian dilanjutkan jalan sehat, pembagian doorprize serta hiburan. Ketua Panitia Jalan Sehat PGRI Kutim, Mursalam, menyampaikan kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan keluarga besar PGRI sekaligus memperingati dua momentum penting, yakni HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan HGN 2026. “Patut kita bersyukur hari ini karena masih diberikan kesehatan, kekuatan, dan kesempatan untuk melaksanakan satu kegiatan yang dapat mempersatukan kita, yaitu Jalan Sehat PGRI Kabupaten Kutai Timur,” ujarnya dalam laporan panitia. Kegiatan turut dihadiri Wakil Bupati Kutim Mahyunadi, Kepala Badan Kesbangpol Kutim Tejo Yuwono, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim sekaligus Dewan Pembina PGRI Kutim Ahmad Masari, Anggota DPRD Kutim Akbar Tanjung serta jajaran PGRI Kutim. Dalam sambutannya, Mahyunadi menyampaikan apresiasi kepada para guru atas dedikasi dan kerja sama dalam mendidik generasi penerus. Ia menekankan, peran guru tidak sekadar mengajar, tetapi juga menjadi teladan sekaligus bagian penting dalam menentukan masa depan bangsa. “Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan saya mengucapkan selamat kepada para guru yang tergabung dalam PGRI atas dedikasi, terima kasih atas dedikasi dan kerja samanya selama ini mendidik murid-murid kita dengan baik,” kata Mahyunadi. Menurutnya, pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang hasilnya tidak dapat dilihat secara instan. Karena itu, guru bersama orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter dan masa depan anak-anak. “Baik tidaknya anak-anak kita, baik tidaknya masa depan bangsa kita, yaitu dititipkan pada guru,” tegasnya. Mahyunadi juga mendorong para guru untuk terus berkarya dan berinovasi, namun tetap berpegang pada aturan yang berlaku. Ia mengingatkan agar inovasi di lingkungan sekolah tidak justru menimbulkan persoalan baru. Selain itu, ia menyampaikan bahwa Pemkab Kutim tengah merancang peningkatan kesejahteraan bagi guru. Menurutnya, peningkatan penghargaan terhadap guru dari sisi penghasilan menjadi salah satu hal yang perlu terus diperhatikan. “Kita dalam rancang-rancang. Pak Bupati sudah rancang-rancang, insyaallah tahun depan naik,” ujarnya. Ia berharap momentum HGN menjadi pengingat bagi seluruh guru untuk terus menjadi sosok yang dapat diteladani dan diidolakan oleh peserta didik. “Menjadi teladan dan menjadi idola bagi anak-anak murid kita, oleh karena itulah berikanlah contoh teladan yang baik bagi murid-murid kalian sekalian,” pungkasnya.(kopi17/kopi13)

Advertorial