
Produksi Beras Lokal Cuma Cover 18%, Kutim Pacu Kerjasama Antar Daerah Amankan 7 Bahan Pokok
SANGATTA — Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menghadapi tantangan serius terkait jurang pemisah (gap) yang lebar antara tingkat konsumsi pangan masyarakat dengan kapasitas produksi lokal. Kondisi ini menuntut Pemerintah Kabupaten Kutim untuk bergerak cepat mengamankan rantai pasok pangan demi mencegah lonjakan inflasi.
Gambaran defisit tersebut mengemuka dalam Rapat Teknis Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kutim di Kantor Bupati Kutim, Kamis (6/8/2026).
Kepala Bagian Perekonomian Setkab Kutim, Suriansyah, mengungkapkan salah satu contoh ketimpangan paling mencolok terjadi pada komoditas beras.
“Kebutuhan beras kita mencapai 31.515 ton, sementara kapasitas produksi lokal saat ini baru menyokong sekitar 5.951 ton,” beber Suriansyah.
Artinya, petani lokal baru mampu memenuhi sekitar 18 persen dari total kebutuhan beras warga Kutim, sementara sisanya sangat bergantung pada pasokan luar daerah.
Untuk menutup celah defisit pasokan tersebut, Pemkab Kutim memfokuskan sisa roadmap pengendalian inflasi periode 2025-2027 pada skema kerjasama antar daerah (KAD) dengan wilayah produsen.
Langkah ini menyasar 7 komoditas pangan krusial yang selama ini kerap memicu gejolak Indeks Perkembangan Harga (IPH) di Kutim:
-
Beras
-
Daging sapi
-
Bawang merah
-
Daging ayam ras
-
Cabai rawit
-
Telur ayam ras
-
Cabai besar
Selain mematangkan KAD, dua langkah strategis lain yang digencarkan dalam evaluasi roadmap kali ini adalah penguatan gerakan menanam mandiri serta penyiapan pemanfaatan Belanja Tidak Terduga (BTT) jika terjadi darurat kenaikan harga.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setkab Kutim yang juga menjabat Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Noviari Noor, menyebutkan bahwa meski IPH Kutim tergolong stabil (berada di angka -3,85 pada minggu ke-5 Juli), kewaspadaan tidak boleh kendor.
“Pergerakan IPH Kutim tergolong stabil, meski kerap mengalami kenaikan menjelang hari-hari besar keagamaan nasional,” jelas Noviari.
Menurutnya, penguatan sektor ketahanan pangan dan kelancaran distribusi pasokan dari daerah mitra KAD menjadi kuintansi utama agar lonjakan harga komoditas pokok dapat diredam secara konsisten.
![]()


Tinggalkan Balasan