
Sisir 1.131 Keluarga Berisiko di Bengalon, DPPKB Kutim Guncang Aksi “Jemput Bola” Stop Stunting
BENGALON – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) terus memacu percepatan penanganan stunting hingga ke tingkat tapak. Melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim, pemerintah daerah menggelar aksi “Layanan Jemput Bola Stop Stunting” di Kantor Camat Bengalon, Senin (3/8/2026).
Kecamatan Bengalon menjadi titik keempat pelaksanaan program setelah Teluk Pandan, Sangatta Selatan, dan Rantau Pulung. Plh Kepala DPPKB Kutim, Yuriansyah, menegaskan kegiatan ini merupakan wujud nyata implementasi dari 50 program unggulan Pemkab Kutim untuk memastikan penanganan Keluarga Risiko Stunting (KRS) berjalan presisi.
Aksi lapangan ini juga diperkuat dengan penyerahan 20 paket Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dari Baznas Kutim serta keterlibatan lintas sektor, mulai dari dinas teknis, kader desa, hingga swasta.
“Dengan pendekatan jemput bola, kami memastikan seluruh keluarga yang masuk kategori berisiko mendapatkan pendampingan dan intervensi secara cepat dan tepat demi mewujudkan keluarga berkualitas,” tegas Yuriansyah.
Keberhasilan penanganan stunting sangat bergantung pada ketepatan dan pemutakhiran data di lapangan. Hal tersebut ditegaskan Camat Bengalon sekaligus Ketua TPPS Kecamatan, Harun Al Rasyid, saat mendampingi tim DPPKB Kutim dalam sosialisasi dan audit data Keluarga Risiko Stunting (KRS).
Harun mengingatkan pentingnya membedakan antara balita yang sudah mengalami stunting dengan keluarga yang sekadar masuk kategori berisiko (KRS). Selain itu, ia menyoroti temuan pendataan di lapangan di mana terdapat pasangan suami istri berusia di atas 40 tahun yang terdaftar sebagai KRS hanya karena faktor usia, padahal belum memiliki anak.
Menurutnya, kriteria seperti sanitasi, air bersih, dan rumah layak huni harus menjadi indikator utama agar alokasi bantuan dan intervensi tidak salah sasaran.
“Anak stunting itu sudah terkena, penanganannya berbeda dengan pencegahan pada KRS. Verifikasi data lapangan sangat penting agar intervensi program benar-benar dirasakan oleh keluarga yang membutuhkan,” ujar Harun Al Rasyid.
![]()


Tinggalkan Balasan