
Bentengi Petani dari Risiko Gagal Panen, Pemkab Kutim Alokasikan Rp216 Juta Asuransikan 1.200 Hektare Sawah
SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) meluncurkan program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) sebagai bentuk perlindungan konkret bagi para petani padi lokal. Melalui APBD Tahun 2026, Pemkab Kutim mengalokasikan anggaran sebesar Rp216 juta untuk menanggung premi asuransi seluas 1.200 hektare lahan sawah aktif.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dyah Ratnaningrum, menjelaskan bahwa program yang digagas Bupati Ardiansyah Sulaiman dan Wakil Bupati Mahyunadi ini menggandeng PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo). Dengan skema ini, petani yang lahannya terdampak banjir, kekeringan, atau serangan hama berhak menerima klaim ganti rugi Rp6 juta per hektare.
Langkah strategis ini sekaligus menjadikan Kutim sebagai satu-satunya kabupaten/kota di Kalimantan Timur yang menjalankan program perlindungan petani terintegrasi APBD secara mandiri.
“AUTP ini baru kita alokasikan di APBD 2026. Tujuannya agar petani tidak menanggung sendiri kerugian saat terjadi gagal panen, sehingga mereka punya modal untuk kembali menanam tanpa harus mulai dari nol,” ujar Dyah Ratnaningrum.
Pemkab Kutai Timur terus memacu kemandirian pangan daerah agar tak lagi bergantung pada pasokan beras dari luar Kaltim. DTPHP Kutim mengintegrasikan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dengan program Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS) besutan Kementerian Pertanian RI.
Dyah Ratnaningrum membeberkan, melalui modernisasi berbasis mekanisasi, pemupukan berimbang, dan tata kelola air presisi, produktivitas padi Kutim yang semula 5–6 ton per hektare diproyeksikan melonjak hingga 10–12 ton per hektare pada lokasi percontohan.
Sinergi teknologi modern dan jaminan asuransi ini diyakini membuat para petani lebih percaya diri untuk menggenjot kapasitas produksi secara berkelanjutan.
“Petani tidak hanya didorong meningkatkan produktivitas melalui teknologi modern, tetapi juga diproteksi saat menghadapi ketidakpastian cuaca dan hama. Jika panen lokal melimpah, kedaulatan pangan Kutim akan semakin kokoh,” tegas Dyah.
![]()


Tinggalkan Balasan