
Cegah “Gunung Es” HIV/AIDS Membesar, Wabup Kutim Mahyunadi Instruksikan Pemetaan Kelompok Berisiko
SANGATTA – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi, menegaskan bahwa penanganan HIV/AIDS di wilayahnya tidak boleh lagi sekadar berfokus pada pengobatan medis. Pemkab Kutim bersiap memperkuat strategi hulu melalui pemetaan (mapping) kelompok berisiko tinggi.
Instruksi tersebut disampaikan Mahyunadi usai membuka Rapat Koordinasi dan Evaluasi Penanggulangan HIV/AIDS Kabupaten Kutim di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim, beberapa waktu lalu.
Menurut Mahyunadi, penanganan kasus HIV/AIDS ibarat mengurai fenomena gunung es. Jumlah kasus yang terdata diyakini baru sebagian kecil dari realitas di lapangan.
“HIV/AIDS itu bagaikan gunung es. Kelihatannya sedikit, tetapi di bawah permukaan masih banyak yang belum teridentifikasi. Kita harus petakan siapa yang perlu ditangani, lalu lakukan pendekatan dan penyuluhan tepat sasaran,” tegas Mahyunadi.
Guna membentengi generasi muda, Pemkab Kutim juga akan menguatkan sinergi dengan pihak sekolah dan orang tua untuk mendeteksi serta membina remaja yang mengindikasikan perilaku berisiko sejak dini.
Selain meluaskan jangkauan tes medis, Pemkab Kutim mendorong keterlibatan aktif lingkungan sekolah dan keluarga sebagai benteng utama pencegahan.
Langkah ini dinilai krusial mengingat kompleksnya persoalan sosial yang melatarbelakangi perilaku berisiko pada remaja.
Wabup Kutim Mahyunadi menyampaikan bahwa jika ditemukan anak atau remaja dengan kecenderungan perilaku berisiko, pendekatan persuasif akan langsung dilakukan bersama orang tua dan guru.
“Anak-anak yang teridentifikasi memiliki perilaku berisiko akan didampingi melalui orang tua dan sekolah agar dapat dibina sejak dini. Pencegahan dan pemahaman yang benar adalah kunci utama,” jelas Mahyunadi pada Rakor Evaluasi KPAID.
![]()


Tinggalkan Balasan