
Kutim Krisis Pendamping Obat ODHIV: Cuma Punya 3 Orang dari Kebutuhan Ideal 27 Tenaga Layanan
SANGATTA — Kepatuhan minum obat bagi Orang dengan HIV (ODHIV) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terancam tidak maksimal akibat minimnya tenaga pendamping resmi. Saat ini, Kutim hanya memiliki 3 orang pendamping yang dibiayai, padahal idealnya dibutuhkan minimal 27 orang untuk menjangkau seluruh fasilitas kesehatan (faskes).
Kondisi krisis ini terungkap dalam Rapat Koordinasi Rencana Aksi Penanggulangan HIV di Ruang Arau Kantor Bupati Kutim, Kamis (6/8/2026).
Pihak Dinas Kesehatan Kutim, Rika, membeberkan bahwa ketimpangan antara jumlah faskes dan tenaga pendamping lapangan sangat jauh dari kata ideal.
“Kutai Timur memiliki 21 puskesmas serta 4 rumah sakit (pemerintah dan swasta) yang memberikan pelayanan HIV. Jika setiap faskes minimal punya satu pendamping, kita butuh 27 orang. Sementara saat ini yang terbiayai baru 3 orang,” papar Rika.
Rika menjelaskan, skema honorarium pendamping sebenarnya telah terintegrasi dalam Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD) dengan besaran Rp 2,1 juta per orang setiap bulan.
Untuk menutup celah kekurangan 24 orang pendamping lagi, Pemkab Kutim diperkirakan butuh mengalokasikan anggaran sekitar Rp 680 juta per tahun.
| Kategori | Jumlah Saat Ini | Kebutuhan Ideal | Selisih/Kekurangan |
| Fasilitas Kesehatan (Puskesmas & RS) | – | 25 Faskes | – |
| Tenaga Pendamping Minum Obat | 3 Orang | 27 Orang | 24 Orang |
| Kebutuhan Anggaran Tambahan | – | – | ± Rp 680 Juta/Tahun |
Dinkes Kutim menegaskan bahwa tugas pendamping terapi antiretroviral (ARV) tidak bisa dibebankan kepada relawan biasa yang terikat keterbatasan waktu. Sebagian besar pendamping idealnya berasal dari komunitas penyintas yang memiliki kedekatan emosional dan pemahaman psikososial mendalam.
Kedisiplinan minum obat ARV secara ketat di jam yang sama setiap hari merupakan kunci utama mencegah resistensi obat pada tubuh ODHIV.
“Pendamping bukan sekadar pengingat jam minum obat. Mereka memberikan dukungan psikososial agar pasien tidak merasa berjuang sendirian. Jika komunikasi terputus karena kekurangan tenaga, pasien bisa merasa diabaikan dan drop dari terapi,” pungkas Rika.
Sebagai bentuk apresiasi bagi pasien yang disiplin menjalani terapi, Pemkab Kutim bersama KPAD, Dinas Sosial, dan tim komunitas saat ini juga menyalurkan dukungan nutrisi serta multivitamin tambahan secara berkala.
![]()


Tinggalkan Balasan