
Disdikbud Kutim ‘Suntik’ Keterampilan 83 Operator Desa, Ditarget 2 Bulan Tuntaskan Sisir Data ATS
SANGATTA — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) resmi menggembleng 83 petugas lapangan yang terdiri dari operator desa, penilik PAUD PNF, hingga koordinator wilayah dalam Sosialisasi dan Advokasi Pencegahan dan Penanganan Anak Tidak Sekolah (PP ATS) Tahap I di Hotel Five Style, 5–8 Agustus 2026.
Pelatihan intensif ini digelar untuk mematangkan akurasi data sebelum para operator diterjunkan langsung dalam perburuan data real-time Anak Tidak Sekolah (ATS) di seluruh wilayah Kutim.
Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan Pendidikan Nonformal (PNF) Disdikbud Kutim, Heri Purwanto, menegaskan bahwa operator desa memegang peranan kunci untuk memvalidasi fakta di lapangan.
“Kalau yang belum pernah bersekolah nanti diverifikasi oleh operator desa. Kalau yang drop out dan lulus tidak melanjutkan akan ditangani operator sekolah,” papar Heri.
Usai digembleng materi teknis dan diberikan akses pembuatan akun sistem resmi, para operator desa langsung dibebani tenggat waktu (deadline) ketat untuk menyisir pemukiman warga. Operator diberi waktu 1 hingga 2 bulan untuk merampungkan verifikasi door-to-door.
Selanjutnya data hasil temuan akan diunggah ke sistem Kementerian Pendidikan sekaligus aplikasi khusus daerah buatan Disdikbud Kutim sebagai pembanding.
Langkah ini diambil guna mengeliminasi data “hantu” seperti warga yang sudah pindah domisili atau bahkan sudah lulus kuliah namun masih terdata sebagai ATS.
“Target saya teman-teman operator desa ini setelah pelatihan sudah melakukan verifikasi lapangan. Dari situ kita akan punya data yang benar sebagai dasar menyusun program penanganan ATS,” tegas Heri.
Tak hanya soal input data, langkah inovatif lain dalam agenda ini adalah keterlibatan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMDes) Kutim serta Pusdatin Kemendikdasmen.
Pemkab Kutim mendorong pemerintah desa agar tidak ragu mengalokasikan Alokasi Dana Desa (ADD) dan APBDes guna mendukung biaya operasional verifikasi lapangan maupun memberi bantuan intervensi langsung bagi anak-anak yang terancam putus sekolah.
Dengan sinergi antara pelatihan teknis, integrasi aplikasi daerah, dan dukungan finansial tingkat desa, Kutim optimistis penanganan anak putus sekolah ke depan akan makin presisi dan tepat sasaran.
![]()


Tinggalkan Balasan