Sabtu, 25 April 2026

DPPKB Kutim Dorong Perubahan Perilaku Lewat Edukasi Kreatif: Dari Studio Podcast hingga Ruang Kelas

Infokaltim.com, Sangatta – Alih-alih hanya mengandalkan ceramah formal atau sosialisasi konvensional, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutai Timur memilih jalur berbeda dalam memerangi stunting. Mereka merambah ruang-ruang baru—dari studio podcast, layar televisi, hingga halaman sekolah untuk memastikan pesan kesehatan keluarga benar-benar sampai dan melekat di benak masyarakat.

Melalui program Cap Jempol Stop Stunting, DPPKB Kutim mencoba menghadirkan edukasi yang lebih dekat, lebih mudah dipahami, dan tidak berjarak. Kampanye ini dirancang bukan sekadar memberi tahu, tetapi mengajak masyarakat ikut terlibat dalam perubahan pola hidup.

Kepala DPPKB Kutim, Ahmad Junaedi, menjelaskan bahwa strategi pendekatan kreatif ini bukan tanpa alasan. “Jika ingin mengubah perilaku, kita harus hadir di tempat di mana masyarakat menghabiskan waktunya. Media menjadi pintu yang efektif,” ujarnya.

Salah satu langkah inovatif adalah produksi podcast edukatif di kanal YouTube DPPKB Kutim yang membahas kesehatan reproduksi, gizi, hingga pola pengasuhan. Konten tersebut dihadirkan dengan format ringan agar dapat dinikmati semua kalangan, terutama generasi muda yang akrab dengan platform digital.

Tidak hanya itu, DPPKB Kutim juga menggandeng TVRI dalam program Publika, menghadirkan diskusi bersama pakar dari Kementerian Pendidikan, BKKBN, hingga LAN RI. Kolaborasi ini membuat pesan pencegahan stunting menjangkau audiens yang lebih luas, termasuk masyarakat yang belum terhubung dengan internet.

Sementara di lapangan, pendekatan personal tetap diutamakan. Petugas turun langsung ke desa-desa memberikan edukasi mengenai kesehatan reproduksi, pencegahan stunting, hingga pendampingan pola asuh. Fase berikutnya diperkuat dengan sosialisasi mengenai HIV/AIDS, pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan, serta bahaya narkoba bagi Aparatur Sipil Negara.

DPPKB Kutim turut memperluas kampanye melalui Sekolah Siaga Kependudukan (SSK), bekerja sama dengan Disdikbud Kutim. Remaja dibekali pengetahuan dasar agar menjadi agen perubahan di lingkungannya, mengingat mereka kelak akan memasuki usia pernikahan dan menjadi generasi penerus.

Dari media cetak hingga digital, dari ruang kelas hingga ruang keluarga, seluruh materi edukasi disebarkan terstruktur untuk menyentuh semua lapisan masyarakat. “Informasi harus hadir di mana pun masyarakat berada,” tegas Junaedi. “Hanya dengan itu perubahan perilaku dapat terjadi.”

Melalui jejaring kampanye yang makin luas dan berjenjang, DPPKB Kutai Timur memastikan bahwa upaya mencegah stunting bukan sekadar program, tetapi sebuah gerakan bersama menuju generasi yang lebih sehat dan kuat. (ADV)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini