Sabtu, 19 September 2026

68,3 Hektare Lahan Kutim Terdampak Karhutla, Namun Hotspot Mulai Menurun

 

SANGATTA – Kabar baik datang dari penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Setelah sempat muncul rata-rata empat hingga lima titik panas setiap hari, kini jumlahnya berangsur turun menjadi sekitar dua titik per hari.

Namun, penurunan tersebut belum membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim mengendurkan kewaspadaan.

Pasalnya, berdasarkan rekapitulasi data hingga 22 Agustus 2026, luas lahan yang terdampak karhutla di Kutim telah mencapai 68,3 hektare.

Data tersebut disampaikan Kepala BPBD Kutim Sulastin dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan Karhutla yang dipimpin Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman di Ruang Rapat Utama BPBD Kutim, Senin (24/8/2026).

“Jika pada kondisi sebelumnya rata-rata tercatat empat hingga lima titik api per hari, dalam pemantauan terbaru jumlah tersebut turun menjadi sekitar dua titik,” ujar Sulastin.

Meski jumlah hotspot menurun, BPBD mengingatkan ancaman belum sepenuhnya berakhir. Bara api yang terlihat padam masih dapat kembali menyala dan merambat ke area lain.

Sulastin mencontohkan kejadian ketika sebuah titik api ditinggalkan pemiliknya setelah dianggap aman. Bara yang ternyata masih tersisa kembali merambat sehingga tim gabungan harus turun untuk melakukan pemadaman ulang.

“Tim gabungan harus turun tangan melakukan pemadaman ulang meskipun personel sejatinya telah kembali dari lokasi,” jelasnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api yang terlihat. Pemeriksaan dan pemantauan setelah proses pemadaman juga diperlukan untuk memastikan tidak ada bara yang berpotensi memicu kebakaran kembali.

Sementara itu, angka 68,3 hektare lahan terdampak masih memungkinkan berubah. BPBD Kutim masih melakukan pendataan dan validasi bersama pemerintah kecamatan.

Sejumlah laporan dari wilayah kecamatan juga masih dalam proses verifikasi sebelum dimasukkan ke dalam rekapitulasi.

Untuk mempercepat respons jika muncul titik api baru, BPBD Kutim telah mengaktifkan posko utama penanggulangan karhutla di Kantor BPBD.

Posko pendukung juga mulai dioptimalkan di tingkat kecamatan. Salah satunya berada di Kantor Camat Sangatta Selatan.

“BPBD secara aktif menginventarisir kelengkapan alat serta menginstruksikan seluruh pemerintah kecamatan di Kutim untuk segera membentuk posko operasional siaga karhutla di wilayah masing-masing,” kata Sulastin.

Keberadaan posko tersebut diharapkan memperpendek rantai koordinasi ketika laporan kebakaran muncul. Dengan begitu, petugas tidak perlu menunggu kondisi api membesar sebelum melakukan penanganan.

Penanganan di lapangan juga melibatkan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), termasuk jajaran TNI dan Polri. Dandim 0909/KTM Letkol Czi Zaenal Abidin dan Kapolres Kutim AKBP Aryansyah turut mengawal penanganan di sejumlah titik.

BPBD juga mengandalkan laporan masyarakat untuk mempercepat penemuan titik api.

Masyarakat, pemerintah kecamatan, pemerintah desa hingga perusahaan diminta tidak menunggu api membesar untuk melaporkan kejadian.

Penurunan hotspot menjadi sinyal positif bagi Kutim. Namun, dengan luas lahan terdampak yang telah mencapai 68,3 hektare, kewaspadaan tetap menjadi kunci.

BPBD Kutim memastikan pemantauan dan koordinasi terus dilakukan agar titik api yang muncul dapat segera ditangani dan tidak berkembang menjadi karhutla yang lebih luas.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini