Pasar Menunggu Puluhan Ton, Aren Genjah Kandolo Kekurangan Penyadap
SANGATTA – Peluang pasar Gula Aren Genjah Kandolo ternyata jauh lebih besar dibanding kemampuan produksi petani saat ini. Ketika permintaan disebut bisa mencapai 20 ton, kelompok tani di Desa Kandolo, Kecamatan Rantau Pulung, justru menghadapi persoalan kekurangan tenaga penyadap.
Kondisi tersebut mengemuka dalam audiensi pengurus Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Aren Genjah Kandolo bersama Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman di Ruang Kerja Bupati, Bukit Pelangi, Rabu (12/8/2026).
Ketua MPIG Aren Genjah Kandolo, Siti Rahma, mengatakan peluang pasar gula aren cukup terbuka, mulai dari pasar lokal hingga nasional dan internasional. Namun, produksi yang dihasilkan petani belum mampu mengimbangi permintaan.
“Permintaan pasar nasional dan internasional sangat besar hingga mencapai 20 ton. Namun, kapasitas produksi kami di tingkat petani masih sangat terbatas,” ujarnya.
Saat ini, seorang perajin rata-rata hanya mampu menghasilkan maksimal sekitar 25 kilogram gula aren per hari.
Persoalan terbesar bukan pada minimnya potensi pohon aren. Wakil Ketua MPIG Aren Genjah Kandolo, Syarifuddin, menyebut justru banyak tanaman yang belum dapat dimanfaatkan secara maksimal akibat kekurangan tenaga penderes.
Saat ini, penyadap aktif di Desa Kandolo hanya sekitar 20 orang. Untuk mengoptimalkan potensi yang ada, kelompok tani memperkirakan masih membutuhkan sedikitnya 50 tenaga penyadap tambahan.
“Potensi pohon aren kita melimpah, tetapi kita kekurangan SDM penderes,” kata Syarifuddin.
Di tengah persoalan produksi tersebut, MPIG juga terus menyiapkan pendaftaran Indikasi Geografis (IG) untuk Aren Genjah Kandolo.
Sejumlah tahapan tengah dilakukan, termasuk pemeriksaan sampel tanah dan uji mutu produk. Kelompok tani juga telah menginventarisasi 40 pohon induk yang akan menjadi sumber pembibitan pada kawasan populasi Aren Genjah seluas sekitar 53 hektare.
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menyambut positif langkah tersebut. Ia meminta perangkat daerah terkait, mulai BRIDA, Disperindag, Dinas Koperasi dan UMKM hingga Dinas Perkebunan, memperkuat sinergi dalam pengembangan komoditas lokal itu.
Pemerintah daerah berkomitmen mengawal proses pengajuan IG sekaligus mencari solusi untuk meningkatkan kapasitas produksi, termasuk penguatan SDM dan dukungan peralatan.
Bagi Aren Genjah Kandolo, tantangan ke depan bukan lagi sekadar mencari pembeli. Pasar disebut sudah terbuka.
Kini, pekerjaan rumahnya adalah memastikan gula aren khas Kutim memiliki cukup tenaga, bahan baku, dan kapasitas produksi untuk menjawab permintaan yang terus tumbuh.
![]()

Tinggalkan Balasan