Minggu, 20 September 2026

Internet Kutim Dievaluasi, Empat Desa Masih Menanti Koneksi

SANGATTA – Penguatan konektivitas internet di Kutai Timur (Kutim) kembali menjadi perhatian pemerintah daerah. Evaluasi dilakukan Pemkab Kutim bersama Telkom untuk memastikan jaringan yang telah tersedia benar-benar mampu menopang pelayanan pemerintahan hingga kebutuhan masyarakat di wilayah pelosok.

Pembahasan itu berlangsung saat Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menerima audiensi jajaran Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Diskominfo Staper) bersama PT Telkom di Ruang Kerja Bupati, Kamis (13/8/2026).

Evaluasi dilakukan melalui Post Implementation Review (PIR) terhadap layanan internet dan layanan pendukung Diskominfo Staper Kutim.

Bupati Ardiansyah menilai konektivitas internet kini bukan lagi sekadar fasilitas tambahan. Di tengah kebutuhan pelayanan publik berbasis digital, jaringan internet telah menjadi bagian penting dari aktivitas pemerintahan dan masyarakat.

“Layanan internet yang baik menjadi salah satu kebutuhan penting dalam mendukung aktivitas masyarakat dan pemerintahan,” ujar Ardiansyah.

Karena itu, ia meminta evaluasi dilakukan secara berkala, terutama untuk memastikan masyarakat di wilayah pedalaman tidak tertinggal dalam akses teknologi informasi.

Dari hasil pemetaan, jaringan internet telah menjangkau sejumlah wilayah, salah satunya Desa Beno Harapan. Namun, pekerjaan rumah masih tersisa.

Empat desa masih masuk daftar prioritas untuk perluasan layanan, yakni Desa Himba Lestari di Kecamatan Batu Ampar, Desa Telaga di Kecamatan Sangkulirang, Desa Pulau Miang, serta Desa Long Pejeng di Kecamatan Busang.

Kepala Diskominfo Staper Kutim Ronny Bonar Hamonangan Siburian mengatakan wilayah-wilayah tersebut selanjutnya diusulkan kepada Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk mendapat dukungan pengembangan konektivitas.

Sementara itu, General Manager Telkom Kaltimtara Khaidar Subhan Rahman menjelaskan evaluasi turut mencakup pemeriksaan bandwidth secara rutin dan terdokumentasi sebagai bagian dari tata kelola serta kebutuhan audit.

Penguatan jaringan saat ini diprioritaskan pada koridor jalan utama dan pusat pertumbuhan wilayah, antara lain Sangatta, Bengalon, Karangan dan Muara Wahau. Cakupan layanan jaringan fiber optic disebut dapat mencapai sekitar 20 kilometer dari masing-masing titik jaringan.

Bagi Kutim yang memiliki wilayah luas dengan sebaran permukiman hingga kawasan pedalaman, pemerataan konektivitas menjadi tantangan tersendiri.

Internet yang kuat di pusat pemerintahan tetapi lemah di desa-desa terpencil akan menciptakan kesenjangan baru, terutama ketika layanan publik semakin bergeser ke sistem digital.

Karena itu, evaluasi PIR tersebut tidak hanya berbicara mengenai kualitas jaringan yang sudah terpasang, tetapi juga menjadi pijakan untuk menentukan di mana koneksi berikutnya harus dibangun.

Pemkab Kutim berharap kolaborasi dengan Telkom dan pemerintah pusat dapat mempersempit wilayah blank spot. Dengan konektivitas yang semakin merata, digitalisasi pelayanan publik diharapkan tidak berhenti di kawasan perkotaan, tetapi ikut menjangkau masyarakat di desa-desa pelosok Kutim.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini