Permintaan 20 Ton dari Amerika, Produksi Gula Aren Kandolo Masih Jadi Tantangan
SANGATTA – Gula aren asal Desa Kandolo, Kecamatan Rantau Pulung, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), ternyata menyimpan peluang pasar yang jauh lebih besar dari sekadar memenuhi kebutuhan lokal.
Dalam pembahasan pengajuan Hak Indikasi Geografis (IG), muncul fakta bahwa produk Gula Aren Genjah Kandolo pernah dilirik untuk memenuhi permintaan pasar hingga ke Amerika Serikat. Kebutuhannya pun tidak kecil, mencapai sekitar 20 ton.
Namun, peluang besar tersebut belum sepenuhnya bisa dijawab. Kapasitas produksi Gula Aren Genjah Kandolo saat ini masih terbatas, sementara permintaan pasar terus bergerak.
Persoalan tersebut mengemuka dalam audiensi pembahasan pengajuan Indikasi Geografis Gula Aren Genjah Kandolo di Ruang Kerja Bupati Kutim, Rabu (12/8/2026).
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menilai Aren Genjah Kandolo memiliki potensi ekonomi yang sangat besar untuk dikembangkan. Menurutnya, pasar produk tersebut tidak hanya berada di Kutim atau Kalimantan Timur, tetapi juga terbuka hingga tingkat internasional.
“Pasaran banyak, baik lokal, regional, maupun pasar global,” kata Ardiansyah.
Potensi itu terlihat dari adanya permintaan gula aren dalam jumlah besar dari luar daerah hingga pasar internasional. Dalam audiensi tersebut, salah satu pelaku usaha yang memiliki jaringan pasar Amerika Serikat disebut pernah menyampaikan kebutuhan hingga 20 ton.
Sayangnya, kemampuan produksi yang ada belum memungkinkan untuk memenuhi permintaan tersebut secara maksimal.
Bahkan, pasar dalam daerah saja disebut sudah mulai menyerap produksi dalam jumlah besar. Salah seorang peserta audiensi mengungkapkan, dalam beberapa bulan terakhir para pelaku usaha telah mengalami kesulitan memenuhi permintaan pasar lokal.
“Kalau untuk sementara ini empat bulan ini pasar dalam saja sudah kewalahan,” ungkapnya.
Kondisi itu membuat pengembangan Aren Genjah Kandolo tidak lagi hanya berbicara mengenai pemasaran. Tantangan terbesar justru berada pada kemampuan meningkatkan produksi.
Kabid Prasarana dan Sarana Dinas Perkebunan Kutim, Alamsyah Saragih, mengatakan pengembangan industri gula aren harus dimulai dari penguatan sektor hulu.
Hilirisasi, menurutnya, tidak akan berjalan maksimal apabila ketersediaan bahan baku dan bibit Aren Genjah tidak dipersiapkan.
“Walau bagaimanapun rencana kita hilirisasi, tapi kalau tidak ada bibit yang akan kita jadikan untuk bahan tanamnya, maka sia-sialah hilirisasi itu,” jelas Alamsyah.
Pada 2022, tercatat terdapat 154 pohon induk Aren Genjah terpilih yang menjadi sumber bibit. Namun, jumlah tersebut kini berkurang sehingga diperlukan langkah untuk menambah kembali pohon induk.
Dinas Perkebunan Kutim berencana melakukan koordinasi dengan pemulia tanaman dari Balit Palma Manado serta kementerian terkait untuk mendukung pengembangan sumber bibit tersebut.
Selain persoalan bibit, keterbatasan tenaga penyadap juga menjadi tantangan tersendiri.
Saat ini, seorang penyadap disebut dapat menghasilkan sekitar 25 kilogram gula per hari, tergantung kondisi produksi. Jumlah tersebut tentu belum cukup untuk menjawab kebutuhan pasar dalam skala besar.
Bupati Ardiansyah pun mendorong agar generasi muda mulai dilibatkan dalam pengembangan komoditas tersebut.
Pemerintah daerah berencana mendorong koordinasi dengan Komite Tani Muda dan kelompok pemuda tani agar Aren Genjah tidak hanya dikelola oleh generasi yang selama ini telah menjalankan usaha tersebut.
Di tengah persoalan kapasitas produksi, Pemkab Kutim juga tengah menyiapkan langkah perlindungan melalui pengajuan Hak Indikasi Geografis.
Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Aren Genjah Desa Kandolo, Sukfi Rahmah, mengatakan proses pembentukan kelembagaan MPIG telah berjalan.
Salah satu tahapan yang tengah dipersiapkan adalah Surat Keputusan pembentukan MPIG sebagai bagian dari persyaratan pengajuan Indikasi Geografis.
“Untuk IG-nya SK-nya pertama sedang dalam proses paraf, terkait dengan SK pembentukan MPIG. Maka minta nanti Bapak bisa menandatangani SK-nya,” ujar Sukfi.
Aren Genjah Kandolo sendiri memiliki kawasan sekitar 53 hektare di Desa Kandolo yang masuk Area Penggunaan Lain atau APL. Tanaman Aren Genjah juga ditemukan di kawasan Taman Nasional Kutai.
Karena itu, Pemkab Kutim melihat perlunya koordinasi dan kerja sama dengan pengelola Taman Nasional Kutai untuk mendata serta menjaga keberadaan tanaman tersebut.
Produk Aren Genjah Kandolo kini juga tidak lagi terbatas pada gula cetak. Pelaku usaha telah mengembangkan berbagai produk turunan, mulai dari gula semut, gula cube hingga gula cair atau juruh.
Dengan pasar yang terus terbuka, tantangan Kutim kini bukan lagi sekadar memperkenalkan produk gula aren kepada konsumen.
Justru sebaliknya, permintaan sudah mulai datang. Tantangan berikutnya adalah bagaimana memperbanyak pohon, menyiapkan bibit unggul, menambah tenaga penyadap, menjaga kualitas produksi, sekaligus memperkuat identitas Gula Aren Genjah Kandolo melalui Indikasi Geografis.
Jika seluruh mata rantai tersebut berhasil diperkuat, gula aren yang tumbuh dari Kandolo berpeluang melangkah lebih jauh.
Bukan hanya menjadi pemanis di pasar lokal, tetapi menjadi salah satu produk khas Kutai Timur yang mampu menjawab permintaan pasar hingga ke luar negeri.
![]()

Tinggalkan Balasan