Minggu, 20 September 2026

Harga Jadi Tantangan, Diskop Kutim Cari Jalan agar Cokelat Lokal Makin Kompetitif

SANGATTA – Produk olahan kakao asal Kutai Timur (Kutim) terus didorong naik kelas. Namun, di tengah upaya memperluas pasar, pelaku UMKM masih menghadapi satu persoalan penting, yakni tingginya biaya produksi yang berdampak langsung terhadap harga jual.

Dua produk olahan kakao lokal, Coklat Mantan dan Borco Chocolate, menjadi bagian dari fokus pengembangan Dinas Koperasi dan UMKM Kutim.

Kakao yang berasal dari sejumlah wilayah seperti Karangan, Kaubun hingga Pengadan dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kutim, Marhadyn, mengatakan pengembangan kakao tidak cukup hanya berhenti pada peningkatan produksi bahan baku.

Menurutnya, hilirisasi menjadi langkah penting agar hasil panen petani dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

“Untuk kakao, kita fokus pada produk hilirisasinya seperti Coklat Mantan dan Borco Chocolate. Produk-produk ini memiliki potensi untuk terus berkembang, sehingga perlu didukung dari sisi produksi hingga pemasarannya,” kata Marhadyn.

Namun, perjalanan produk cokelat lokal untuk bersaing di pasar bukan tanpa tantangan.

Salah satu persoalan yang dihadapi adalah biaya produksi yang masih cukup tinggi. Kondisi ini membuat harga jual produk UMKM sulit disandingkan secara langsung dengan produk cokelat yang diproduksi secara massal oleh industri besar.

Marhadyn menegaskan, perbandingan harga tersebut tidak bisa dilakukan secara sederhana. Sebab, produk olahan kakao lokal memiliki karakter tersendiri, terutama dari sisi bahan baku dan proses produksi yang masih dilakukan dalam skala UMKM.

“Kalau kita bicara harga, tentu harus sejalan dengan kualitas. Produk premium tidak bisa disamakan dengan produk yang diproduksi secara massal. Ada kualitas dan karakter yang menjadi nilai tambah dari produk kita,” ujarnya.

Meski mengedepankan kualitas, Diskop UMKM Kutim tetap melihat efisiensi biaya produksi sebagai pekerjaan rumah yang perlu segera dicari solusinya.

Tujuannya agar produk cokelat lokal tetap memiliki harga yang kompetitif tanpa harus mengorbankan kualitas. Untuk itu, diperlukan kolaborasi lintas perangkat daerah.

Marhadyn menjelaskan, pengkajian mengenai teknologi pengolahan dan upaya efisiensi produksi dapat melibatkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan.

Sementara Diskop UMKM berfokus pada pembinaan pelaku usaha dan penguatan kelembagaan UMKM.

“Kalau biaya produksinya bisa ditekan, tentu harga jual produk juga bisa lebih kompetitif. Ini yang perlu kita kaji bersama agar UMKM kita mampu bersaing tanpa mengurangi kualitas produknya,” jelasnya.

Selain persoalan biaya, pengembangan kakao Kutim juga diarahkan untuk memperkuat identitas produk lokal.

Cita rasa dan kualitas diharapkan menjadi pembeda yang membuat produk cokelat asal Kutim memiliki tempat tersendiri di tengah persaingan pasar. Pemerintah daerah pun membuka peluang dukungan melalui berbagai program pembinaan dan fasilitasi untuk meningkatkan kapasitas pelaku UMKM.

Pengembangan industri kakao dinilai tidak hanya berdampak pada pelaku usaha pengolahan, tetapi juga membuka rantai ekonomi yang lebih luas. Petani berperan sebagai penyedia bahan baku, UMKM mengolah kakao menjadi produk siap jual, sementara koperasi dapat mengambil peran dalam memperkuat jaringan usaha hingga akses pasar.

Marhadyn optimistis, dengan pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan, produk olahan kakao Kutai Timur dapat semakin dikenal di luar daerah.

“Kami ingin produk kakao Kutai Timur terus berkembang. Yang terpenting bukan hanya menghasilkan produk yang baik, tetapi juga membangun industri yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat secara berkelanjutan,” pungkasnya.

Kini, tantangannya bukan hanya bagaimana menghasilkan cokelat dengan rasa berkualitas, tetapi juga menemukan formula agar produk lokal Kutim mampu diproduksi lebih efisien, dijual dengan harga kompetitif dan tetap mempertahankan identitasnya sebagai produk unggulan daerah.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini