Sabtu, 19 September 2026

Beasiswa Rp2,5 Juta Jadi Angin Segar Pelajar Kutim, Sekolah Mulai Petakan Siswa Penerima

SANGATTA – Bagi sebagian pelajar, uang Rp2,5 juta mungkin bukan sekadar angka.

Nominal tersebut bisa berarti seragam baru, perlengkapan sekolah, hingga biaya kebutuhan pendidikan yang selama ini harus dipikirkan keluarga.

Harapan itulah yang kini muncul setelah Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kembali menggulirkan Beasiswa Stimulan Siswa Tahun 2026.

Tahun ini, sebanyak 1.000 pelajar jenjang SMA, SMK, MA dan SLB di Kutim akan menerima bantuan masing-masing Rp2,5 juta. Total anggaran yang disiapkan mencapai Rp2,5 miliar.

Program tersebut disosialisasikan Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setkab Kutim di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim, beberapa waktu lalu.

Bagi sekolah, sosialisasi ini menjadi langkah awal untuk memastikan bantuan tidak salah sasaran.

Kepala MA Nurul Hikmah Sangatta, Nur Aini Farida, mengatakan pihaknya akan segera melakukan pemetaan terhadap siswa yang dinilai memenuhi kriteria penerima.

Beberapa kategori yang menjadi perhatian sekolah di antaranya kondisi ekonomi keluarga, prestasi akademik hingga siswa penghafal Al-Qur’an.

“Akan kami umumkan kepada anak-anak. Nanti kami pilih berdasarkan yang akademik, yang termasuk keluarga miskin, dan termasuk hafiz. Nanti kami pilah-pilah untuk mencukupi kuota 15 orang,” ujar Nur Aini.

Menurutnya, informasi yang diperoleh melalui sosialisasi membuat pihak sekolah memiliki gambaran lebih jelas mengenai proses pengusulan.

Ia berharap bantuan tersebut nantinya dapat membantu siswa mempertahankan keberlanjutan pendidikan tanpa terlalu terbebani persoalan biaya.

“Insyaallah sudah jelas. Kami berharap anak-anak bisa meneruskan pendidikannya, tidak ada masalah dengan pendidikan mereka, dan bisa melanjutkan lagi. Pokoknya kami berharap yang terbaik untuk masa depan anak-anak,” katanya.

Harapan serupa disampaikan Kepala SMAN 1 Teluk Pandan, Siti Yulianah Mahadi.

Ia menyebut beasiswa tersebut sangat berarti bagi siswa, terutama mereka yang berasal dari keluarga yang membutuhkan dukungan pembiayaan pendidikan.

Salah satu kebutuhan yang cukup mendesak, kata dia, adalah perlengkapan sekolah bagi siswa kelas 10.

“Ini sangat berguna untuk anak-anak kami karena memang sebagian besar anak-anak kami mengharapkan beasiswa. Terutama anak-anak kelas 10, banyak sekali seragam yang belum dibeli,” ungkap Siti.

Menurutnya, bantuan tersebut dapat dimanfaatkan siswa untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang belum terpenuhi, termasuk membeli seragam.

Meski demikian, sekolah tetap akan melakukan proses seleksi sesuai ketentuan. Data siswa akan disesuaikan dengan kategori penerima sehingga bantuan yang diberikan benar-benar menyasar mereka yang membutuhkan.

“Kami akan melakukan hal-hal yang sudah disarankan, seperti mendata anak-anak sesuai dengan kriterianya. Ada kriteria miskin, berprestasi, dan sebagainya sesuai dengan yang kami dapatkan tadi,” jelasnya.

Siti juga berencana menyampaikan informasi program tersebut kepada orang tua siswa.

Langkah itu dinilai penting agar keluarga mengetahui adanya dukungan pemerintah daerah sekaligus memahami mekanisme dan kriteria penerima.

“Nanti mungkin untuk pertemuan orang tua juga akan kami sampaikan. Orang tua wajib tahu bahwa putra-putri mereka di sekolah ini mendapat dukungan pembiayaan dari pemerintah Kutai Timur,” ujarnya.

Bagi pihak sekolah, ketepatan data menjadi salah satu pekerjaan penting.

Pengalaman program sebelumnya menjadi bahan evaluasi agar tidak terjadi penerima ganda maupun pengusulan siswa yang tidak memenuhi kriteria.

Sementara itu, Kepala Bagian Kesra Setkab Kutim Norhadi menjelaskan program Beasiswa Stimulan Siswa 2026 menyasar 63 sekolah.

Rinciannya terdiri dari 26 SMA, 25 SMK, sembilan MA dan tiga SLB, baik negeri maupun swasta.

Bantuan Rp2,5 juta per siswa diharapkan tidak hanya menjadi bantuan finansial, tetapi juga menjadi dorongan agar pelajar Kutim terus melanjutkan pendidikan dan meningkatkan prestasi.

“Ini bentuk kepedulian dan dukungan moral nyata dari Pemkab Kutim agar anak-anak kita terus berkembang dan optimis menatap masa depan,” kata Norhadi.

Kini bola berada di tangan sekolah untuk memetakan calon penerima.

Di balik proses pendataan dan seleksi tersebut, ada harapan agar Rp2,5 juta yang diterima nantinya benar-benar sampai kepada siswa yang membutuhkan.

Sebab bagi keluarga tertentu, bantuan pendidikan bukan hanya soal meringankan pengeluaran, tetapi juga menjaga agar anak tetap bisa bersekolah dan mengejar cita-cita.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini