Sabtu, 19 September 2026

Bukan Sekadar Gelar S2, 297 Guru Kutim Bawa Pulang Ilmu Pendidikan Inklusi dari UNY

 

YOGYAKARTA – Gelar magister bukan menjadi akhir perjalanan bagi ratusan guru asal Kutai Timur (Kutim) yang baru saja menyelesaikan pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Justru setelah wisuda, tantangan sebenarnya dimulai. Ilmu yang mereka dapat selama setahun menempuh Magister Pendidikan Luar Biasa melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) diharapkan dibawa pulang dan diterapkan langsung di sekolah-sekolah Kutim.

Sebanyak 297 guru mengikuti prosesi wisuda UNY Periode I Tahun Akademik 2026/2027 di GOR UNY, beberapa waktu lalu. Mereka merupakan penerima Beasiswa Indonesia Emas Daerah (BIMED) yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Kutim.

Salah satu wisudawati, Megawati, guru SDN 002 Sangatta Utara, mengaku bersyukur mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 tanpa harus meninggalkan tugasnya sebagai guru.

Menurutnya, perkuliahan yang dijalani membuka wawasan baru, terutama dalam memahami bagaimana memberikan layanan pendidikan kepada peserta didik dengan kebutuhan yang beragam.

“Banyak sekali kesan yang kami dapatkan dari perkuliahan inklusi ini. Terima kasih kepada Disdikbud Kabupaten Kutim yang sudah memfasilitasi kami dan memberikan kesempatan untuk menempuh pendidikan,” ujar Megawati.

Perkuliahan yang berlangsung secara hybrid juga menjadi salah satu faktor yang membuat program tersebut dapat diikuti para guru sambil tetap menjalankan kewajiban mengajar.

Kegiatan daring dilakukan melalui Zoom, sedangkan perkuliahan luring dilaksanakan sesuai agenda yang telah ditentukan. Bahkan, jadwal pembelajaran daring kerap ditempatkan setelah jam mengajar selesai.

“Online-nya kita lewat Zoom dan itu sangat membantu karena disesuaikan dengan kondisi kami yang sambil bekerja. Biasanya setelah jam kerja atau setelah anak-anak pulang sekolah baru diadakan perkuliahan,” tuturnya.

Pengalaman serupa dirasakan Ahmad Mudori, guru SDN 011 Sangatta Selatan. Ia menyebut kesempatan belajar di UNY memberikan bekal yang nantinya dapat diterapkan untuk memperkuat layanan pendidikan di daerah.

“Kesan saya luar biasa banget bisa berkesempatan kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta. Ini sangat bermanfaat untuk diterapkan di Kutim,” kata Ahmad.

Program tersebut dijalani para peserta selama kurang lebih satu tahun. Pendamping dari Disdikbud Kutim, Paulus Ven Logo, mengatakan sekitar 300 guru mengikuti program RPL tersebut sejak awal Agustus hingga pelaksanaan wisuda.

“Kita bersama-sama dengan teman-teman sebanyak 300 orang masuk ke dalam Beasiswa Indonesia Emas ini melalui program RPL. Semua berproses mulai dari awal Agustus sampai dengan pelaksanaan wisuda hari ini, jadi satu tahun penuh proses belajar,” jelas Paulus.

Menurut Paulus, perjuangan para guru tidak ringan. Di tengah kewajiban mengajar, mereka tetap harus mengikuti proses perkuliahan dan menyelesaikan berbagai tugas akademik.

Namun, komitmen tersebut menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan kualitas tenaga pendidik Kutim.

Kini, ratusan guru tersebut memiliki bekal akademik yang lebih kuat di bidang pendidikan inklusif. Mereka diharapkan mampu menerjemahkan ilmu yang diperoleh menjadi pendekatan pembelajaran yang lebih adaptif di sekolah masing-masing.

Terlebih, pendidikan inklusif membutuhkan guru yang tidak hanya memahami materi pelajaran, tetapi juga mampu mengenali karakter, potensi dan kebutuhan setiap peserta didik.

Bagi Pemkab Kutim, program Beasiswa Indonesia Emas pun menjadi investasi jangka panjang. Sebab, peningkatan kualitas guru pada akhirnya diharapkan bermuara pada peningkatan kualitas layanan pendidikan yang diterima para siswa.

Dengan kembalinya para lulusan ke Kutim, ilmu yang sebelumnya diperoleh di ruang-ruang perkuliahan UNY kini diharapkan berpindah ke ruang kelas.

Dari sanalah keberhasilan program beasiswa tersebut akan benar-benar terlihat: bukan hanya dari jumlah guru yang berhasil meraih gelar magister, tetapi dari perubahan kualitas pembelajaran dan semakin baiknya layanan pendidikan inklusif bagi anak-anak Kutai Timur.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini