297 Guru Magister Pendidikan Inklusi Kembali ke Kutim, Siap Perkuat Sekolah Umum Layani Anak Berkebutuhan Khusus
YOGYAKARTA – Ratusan guru asal Kutai Timur (Kutim) kini kembali ke daerah setelah menuntaskan pendidikan Magister (S2) Pendidikan Inklusi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Sebanyak 297 guru secara resmi diserahkan kembali UNY kepada Pemerintah Kabupaten Kutim usai menyelesaikan pendidikan melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
Penyerahan berlangsung di Gedung Dakir Lantai 3 Fakultas Ilmu Pendidikan UNY, Sabtu (22/8/2026). Momen tersebut turut dihadiri Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, Anggota DPRD Kutim Akbar Tanjung, serta Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim Mulyono.
Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan UNY, Prof Nurtanto Agus Purwanto, menyerahkan langsung para lulusan kepada Bupati Ardiansyah.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Pemkab Kutim yang telah memberikan kepercayaan kepada UNY untuk meningkatkan kompetensi tenaga pendidik dari daerah tersebut.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati yang telah memberikan kepercayaan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta untuk mendidik sumber daya manusia di Kutai Timur,” ujar Nurtanto.
Menurutnya, ilmu yang telah diperoleh para guru diharapkan tidak berhenti pada gelar akademik. Para lulusan diminta membawa pengetahuan tersebut kembali ke sekolah dan memberikan dampak terhadap peningkatan mutu pendidikan di Kutim.
“Kepada para lulusan, kami ucapkan selamat. Jaga nama baik almamater Universitas Negeri Yogyakarta dan nama baik daerah Kabupaten Kutim,” katanya.
Nurtanto juga membuka peluang agar kerja sama dengan Pemkab Kutim tidak berhenti pada program S2. UNY, kata dia, siap menerima tenaga pendidik Kutim yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang doktor maupun program studi lainnya.
Sementara itu, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menyambut kepulangan ratusan guru tersebut dengan pesan khusus.
Menurut Ardiansyah, pendidikan inklusi harus berangkat dari keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi masing-masing. Perbedaan kemampuan tidak boleh menjadi alasan bagi seorang anak untuk kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan yang layak.
“Tidak ada anak yang lahir bodoh atau tidak baik. Setiap anak yang lahir ke dunia adalah seorang juara,” tegas Ardiansyah.
Ia menilai kehadiran 297 guru dengan kualifikasi S2 Pendidikan Inklusi dapat menjadi jawaban atas tantangan pemerataan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di Kutim.
Selama ini, keberadaan Sekolah Luar Biasa (SLB) masih terkonsentrasi di wilayah ibu kota kabupaten. Kondisi geografis Kutim yang luas membuat tidak semua anak berkebutuhan khusus dapat mengakses layanan pendidikan secara mudah.
Karena itu, penguatan pendidikan inklusif di sekolah umum menjadi salah satu pilihan strategis.
Dengan bertambahnya guru yang memiliki kompetensi pendidikan inklusi, sekolah di berbagai kecamatan diharapkan mampu memberikan layanan pembelajaran yang lebih adaptif sesuai karakteristik dan kebutuhan peserta didik.
Program tersebut sekaligus memperkuat berbagai kebijakan pendidikan Pemkab Kutim, mulai dari pendidikan gratis, beasiswa hingga program Wajib Belajar 13 Tahun.
Bagi Pemkab Kutim, kepulangan 297 guru tersebut bukan sekadar seremoni setelah wisuda. Mereka kini menjadi tambahan sumber daya manusia terdidik yang diharapkan mampu membawa perubahan langsung ke ruang-ruang kelas.
Pendidikan inklusif pun diharapkan tidak lagi menjadi layanan yang hanya tersedia di pusat kabupaten, tetapi dapat tumbuh di sekolah-sekolah umum hingga pelosok Kutai Timur.
Dengan bekal ilmu yang diperoleh di UNY, para guru tersebut kini ditantang membuktikan bahwa pendidikan yang ramah terhadap seluruh anak dapat diwujudkan secara lebih merata di Bumi Untung Tuah.
![]()

Tinggalkan Balasan