Sabtu, 19 September 2026

Desa Singa Gembara Bidik Pentas Nasional, Inovasi Stunting Dinilai Bisa Jadi Model Nasional

 

SANGATTA – Desa Singa Gembara, Kecamatan Sangatta Utara, Kutai Timur (Kutim), tak sekadar mengejar predikat terbaik dalam penilaian desa berkinerja baik bidang Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (P3S) 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Timur.

Lebih jauh, desa tersebut membawa ambisi menjadikan inovasi penanganan stunting yang mereka jalankan sebagai model yang dapat diterapkan di daerah lain, bahkan tingkat nasional.

Optimisme itu mengemuka setelah Desa Singa Gembara mengikuti presentasi penilaian P3S tingkat Provinsi Kaltim yang digelar secara daring dari Ruang Rapat Diskominfo Staper Kutim, Senin (24/8/2026).

Presentasi tersebut turut didampingi Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Pemkesra) Setkab Kutim sekaligus Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMDes) Kutim, Trisno.

Menurut Trisno, kekuatan Desa Singa Gembara terletak pada keberanian mengintegrasikan berbagai sumber daya untuk menangani stunting. Program tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi diarahkan pada satu target yang terukur.

“Penurunan stunting bukan soal retorika, tetapi soal keyakinan yang diamalkan. Yang dilakukan Desa Singa Gembara adalah mengintegrasikan sumber daya keuangan, sumber daya manusia, dan sumber daya lainnya,” ujar Trisno.

Ia menyebut hasil intervensi tersebut dapat dilihat melalui data. Dalam kurun enam bulan, angka stunting di Desa Singa Gembara menunjukkan tren penurunan hingga berada di kisaran 16 persen.

Bagi Trisno, angka tersebut menjadi bukti bahwa program penanganan stunting berbasis desa dapat memberikan hasil apabila dirancang menggunakan metode yang tepat dan didukung komitmen bersama.

“Kalau dengan metodologi yang bagus dan komitmen yang kuat, penurunan stunting itu bisa. Kita bicara data, bukan sekadar merasa turun atau tidak,” tegasnya.

Tak hanya mengandalkan program Dapur Stunting, Singa Gembara juga memiliki inovasi lain yang menyentuh langsung masyarakat. Di antaranya gerakan RT jemput bola hingga membantu mengantarkan warga ke posyandu.

Namun, Trisno mengakui masih ada pekerjaan rumah. Sejumlah inovasi yang sebenarnya telah berjalan belum seluruhnya dapat disampaikan secara sistematis dalam sesi presentasi.

“Faktanya lebih baik daripada yang dipresentasikan. Ada Dapur Stunting, ada RT jemput bola, bahkan ada RT yang mengantarkan warga ke posyandu. Hanya saja belum tersampaikan secara sistematis,” ungkapnya.

Meski demikian, respons tim juri disebut cukup positif. Trisno menilai catatan yang diberikan juri lebih banyak berkaitan dengan kelengkapan serta konfirmasi data, bukan menyangkut konsep utama program.

“Kalau saya lihat dari respons juri tadi, peluangnya besar. Kelemahannya adalah data yang disampaikan belum seluruhnya terkonfirmasi. Koreksinya mayoritas terkait kelengkapan data, bukan konsep programnya,” jelasnya.

Jika nantinya berhasil menjadi wakil Kaltim ke tingkat nasional, Trisno menilai Singa Gembara perlu memperkuat kemampuan dalam menyajikan program dan data.

Sebab, menurutnya, inovasi yang dimiliki sebenarnya sudah cukup kuat, tetapi perlu dikomunikasikan dengan lebih baik agar keunggulannya dapat terlihat jelas di hadapan tim penilai.

“Mudah-mudahan sampai nasional. Saya rasa yang perlu dipersiapkan adalah presentasinya, karena sebenarnya barangnya lebih baik, hanya belum terjual dengan baik,” katanya.

Trisno bahkan melihat inovasi yang dijalankan Singa Gembara memiliki peluang untuk direplikasi. Jika terbukti konsisten menurunkan angka stunting, pola intervensi tersebut dapat menjadi salah satu alternatif model penanganan stunting berbasis pemerintahan desa.

“Harapan kita, kalau metode ini nanti dapat diterima di tingkat pusat, bisa menjadi salah satu model yang direplikasi untuk penurunan stunting di seluruh Indonesia,” pungkasnya.

Bagi Kutim, capaian Singa Gembara bukan hanya soal memenangkan kompetisi. Lebih dari itu, penilaian tersebut menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa desa dapat menjadi ujung tombak dalam menghadirkan solusi konkret terhadap persoalan stunting melalui kolaborasi pemerintah, kader, masyarakat hingga tingkat RT.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini