Sabtu, 19 September 2026

Bukan Sekadar Mancing, Lomba Udang Galah di Sungai Sangatta Jadi Pesan Jaga Sumber Rezeki

SANGATTA – Umpan dilempar, mata tertuju pada ujung joran. Sesekali tali pancing ditarik perlahan, berharap seekor udang galah berukuran besar menyambar umpan.

Suasana seperti itu mewarnai Lomba Mancing Udang Galah di RT 44 Gang Majaj, Desa Sangatta Utara, Kutai Timur (Kutim). Namun, di balik persaingan mendapatkan tangkapan terbaik, terselip pesan penting tentang masa depan Sungai Sangatta.

Wakil Bupati Kutim Mahyunadi yang membuka kegiatan tersebut bahkan ikut menjajal langsung peruntungannya di tepian sungai. Baginya, udang galah bukan hanya hasil tangkapan untuk dibawa pulang, tetapi juga potensi ekonomi yang dapat dikembangkan masyarakat.

Mahyunadi melihat peluang tersebut dapat diarahkan menjadi bagian dari ekonomi sirkular. Konsepnya sederhana, sungai dijaga, habitat udang galah dipelihara, sementara masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari sumber daya yang tersedia secara alami.

“Ini bisa kita kembangkan menjadi ekonomi sirkular. Sungai kita jaga, habitat udang galah kita jaga, masyarakat mendapatkan manfaat ekonominya,” kata Mahyunadi.

Menurutnya, jangan sampai aktivitas memancing hanya memberikan keuntungan sesaat. Jika ekosistem sungai tetap sehat, populasi udang galah dapat terus berkembang dan menjadi potensi yang bisa dinikmati masyarakat dalam jangka panjang.

Mahyunadi juga mengajak masyarakat ikut menjaga kebersihan Daerah Aliran Sungai (DAS) Sangatta. Salah satu persoalan yang menjadi perhatiannya adalah pertumbuhan enceng gondok di sejumlah bagian sungai.

Jika tidak dikendalikan, tumbuhan tersebut dikhawatirkan menutup sebagian aliran dan mengganggu kondisi perairan serta habitat udang galah.

“Saya mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama membersihkan enceng gondok yang ada di daerah aliran Sungai Sangatta. Jangan sampai sungai kita tertutup dan habitat udang galah terganggu,” ujarnya.

Tak hanya soal kebersihan, Mahyunadi juga mengingatkan para pemancing agar tidak menghabiskan seluruh hasil tangkapan.

Udang galah berukuran kecil maupun yang sedang bertelur diminta dilepaskan kembali. Langkah sederhana itu dinilai penting untuk menjaga siklus perkembangbiakan dan mempertahankan populasi udang galah di Sungai Sangatta.

“Yang kecil jangan diambil, yang bertelur juga harus kita rilis kembali. Kita harus berpikir bagaimana udang galah ini tetap ada dan berkembang,” tegasnya.

Lomba tersebut diikuti sekitar 200 peserta. Sebanyak 84 perahu dan empat ponton digunakan peserta untuk menyusuri sejumlah titik di kawasan Sungai Sangatta.

Hadiah puluhan juta rupiah juga disiapkan panitia untuk sejumlah kategori. Peserta tidak hanya beradu mendapatkan udang dengan bobot terbesar, tetapi juga memburu kategori jumlah tangkapan terbanyak.

Ada pula jackpot udang galah capit biru dan capit kuning. Kreativitas peserta turut mendapat tempat melalui kategori perahu hias terbaik.

Kepala Desa Sangatta Utara Mulyanti mengatakan kegiatan tersebut sengaja dikemas bukan sekadar untuk mencari pemenang lomba.

Menurutnya, momentum tersebut menjadi ruang bagi warga untuk berkumpul, berinteraksi sekaligus memperkuat kebersamaan.

“Kita ingin kegiatan ini bukan hanya soal siapa yang mendapatkan udang paling besar atau paling banyak. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat bisa berkumpul, saling mengenal dan mempererat hubungan,” kata Mulyanti.

Ia berharap kegiatan tersebut juga dapat menjadi awal terbentuknya komunitas pemancing yang lebih terorganisasi. Komunitas itu nantinya diharapkan tidak hanya berkutat pada aktivitas memancing, tetapi turut memiliki kepedulian terhadap kelestarian sungai.

Sebab, bagi masyarakat sekitar, Sungai Sangatta bukan hanya lokasi mencari hiburan. Sungai juga menjadi bagian dari kehidupan dan memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan.

Lomba udang galah akhirnya menjadi gambaran sederhana bagaimana rekreasi, kebersamaan dan kepedulian lingkungan dapat berjalan beriringan.

Pesannya pun jelas: jika Sungai Sangatta tetap bersih dan habitatnya terjaga, udang galah akan tetap ada. Dan selama udang galah tetap berkembang, peluang sungai menjadi sumber rezeki masyarakat juga akan terus terbuka.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini