Senin, 24 Agustus 2026

NKBKT Kutim Isi Malam Kemerdekaan dengan Maulid Nabi dan Doa untuk Para Pejuang

SANGATTA — Malam menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) berlangsung dalam suasana religius. Pengurus Naungan Keluarga Banjar Kutai Timur (NKBKT) memilih mengisi malam kemerdekaan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW, doa bersama dan Haul Jama’ untuk mengenang jasa para pejuang bangsa.

Kegiatan tersebut digelar di Sekretariat NKBKT, Jalan AW Syahranie, Kecamatan Sangatta Utara, Minggu malam (16/8/2026). Puluhan jamaah, pengurus NKBKT, tokoh masyarakat hingga sejumlah pejabat daerah larut dalam rangkaian kegiatan yang berlangsung khidmat.

Gema shalawat membuka kegiatan. Nuansa peringatan kemerdekaan pun berpadu dengan penghormatan terhadap Nabi Muhammad SAW serta doa bagi para pejuang yang telah mengorbankan tenaga, pikiran bahkan nyawa demi kemerdekaan Indonesia.

Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman hadir bersama Wakil Bupati Kutim Mahyunadi yang juga merupakan Pembina NKBKT. Hadir pula perwakilan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), perwakilan PT KPC, tokoh masyarakat serta Guru Abdurrahman Al Hafidz, pengasuh Pondok Pesantren Darul Mustofa, yang menjadi penceramah dalam kegiatan tersebut.

Di hadapan jamaah, Mahyunadi mengapresiasi kekompakan warga Banjar yang selama ini terus terjaga melalui NKBKT. Menurutnya, kebersamaan tersebut menjadi salah satu kekuatan paguyuban dalam membangun hubungan sosial di tengah keberagaman masyarakat Kutim.

“Ulun menyampaikan terima kasih dan rasa bangga sebesar-besarnya. Sampai saat ini, kerukunan naungan keluarga Banjar kita paling rakat dan paling akrab se-Kutai Timur.”

Mahyunadi bahkan menyelipkan cerita ringan mengenai tingginya antusiasme warga menghadiri kegiatan NKBKT. Menurutnya, keramaian kegiatan bukan semata karena lokasi sekretariat yang mudah dijangkau.

Ia berharap keberkahan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW membawa kesehatan, keselamatan dan kebahagiaan bagi seluruh masyarakat Kutim, sekaligus mempererat silaturahmi antarsesama.

Sementara itu, Bupati Ardiansyah Sulaiman memberikan apresiasi terhadap konsep kegiatan yang memadukan peringatan kemerdekaan dengan kegiatan keagamaan.

Menurut Ardiansyah, doa bersama dan Haul Jama’ untuk mengenang para pejuang menjadi cara yang bermakna untuk menyambut hari kemerdekaan. Semangat kemerdekaan tidak hanya dirayakan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga diisi dengan doa dan rasa syukur.

“Alhamdulillah, NKBKT malam hari ini mengawali sekaligus menggelar doa bersama atau haul jama’ yang dikaitkan dengan kenangan atas jasa para pejuang Republik Indonesia. Ini momen yang sangat luar biasa karena bertepatan dengan menyambut Hari Kemerdekaan.”

Bagi Ardiansyah, mengenang perjuangan para pendahulu merupakan bagian penting dalam merawat semangat kebangsaan. Kemerdekaan yang dinikmati masyarakat hari ini merupakan buah dari perjuangan panjang generasi sebelumnya.

Karena itu, peringatan kemerdekaan dinilai tidak cukup hanya dengan kemeriahan. Nilai syukur, doa dan penghormatan terhadap jasa para pahlawan juga perlu terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ardiansyah turut menyampaikan harapannya terhadap pengembangan sarana keagamaan di Kutai Timur. Ia berharap ke depan Kutim dapat memiliki Islamic Center yang representatif dan megah seperti yang telah dimiliki sejumlah daerah lain di Kalimantan Timur.

Keberadaan Islamic Center tersebut diharapkan dapat melengkapi sarana keagamaan yang telah ada, termasuk Masjid Agung Al-Faruq, sekaligus menjadi pusat kegiatan keislaman masyarakat Kutim.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tausiyah dan ceramah Maulid Nabi Muhammad SAW yang disampaikan Guru Abdurrahman Al Hafidz. Pesan-pesan keagamaan menjadi penutup rangkaian peringatan yang sejak awal dibalut suasana kekeluargaan.

Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa, daerah dan masyarakat serta penghormatan kepada para pejuang kemerdekaan.

Malam itu, semangat kemerdekaan tidak hadir dalam gegap gempita pesta. Ia hadir melalui lantunan shalawat, doa dan kebersamaan—sebuah cara sederhana warga Banjar Kutai Timur mengisi kemerdekaan dengan rasa syukur sekaligus mengenang mereka yang telah lebih dulu berjuang untuk Indonesia.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini