Senin, 24 Agustus 2026

Merah Putih Menembus Rimba, MTMA Kutim Bawa Semangat Kemerdekaan ke Puncak Kepayang

KOMBENG — Ada cara berbeda yang dipilih komunitas pecinta alam My Trip My Adventure (MTMA) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Bukan di tengah hiruk-pikuk perkotaan, mereka justru membawa Merah Putih menembus kawasan alam, mendaki medan terjal, hingga mengibarkannya di dua titik yang menyimpan pesona sekaligus tantangan: Goa Kombeng dan Puncak Kepayang.

Ekspedisi tersebut menjadi perpaduan antara semangat nasionalisme, petualangan, sekaligus cara komunitas muda memperkenalkan potensi wisata alam Kutim.

Etape pertama berlangsung pada 1–2 Agustus 2026 di kawasan Goa Kombeng. Sebanyak 50 anggota MTMA Wahau dan MTMA Long Mesangat terlibat dalam perjalanan tersebut. Mereka menempuh medan alam dengan satu tujuan, membawa Sang Merah Putih hingga salah satu kawasan yang menjadi bagian dari kekayaan alam Kutim.

Namun, perjalanan belum berhenti.

Semangat yang sama kembali digelorakan pada 7–9 Agustus 2026. Kali ini, ekspedisi menyasar Puncak Kepayang di Desa Baay, Kecamatan Karangan.

Jumlah peserta bahkan meningkat dua kali lipat. Sekitar 100 orang ikut ambil bagian dalam kegiatan yang melibatkan berbagai komunitas dan elemen masyarakat.

MTMA Karangan, MTMA Kaliorang, MTMA Sangkulirang, MTMA Bengalon hingga MTMA Kaubun bersatu dalam satu ekspedisi. Mereka juga mendapat dukungan Karang Taruna, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Baay dan masyarakat setempat.

Di tengah perjalanan menuju puncak, Merah Putih menjadi simbol yang menyatukan seluruh peserta. Bagi mereka, mendaki bukan sekadar menaklukkan ketinggian, tetapi juga membawa pesan bahwa kemerdekaan harus terus diisi dengan kegiatan positif.

Ketua MTMA Kutim Soraya Alvianty mengatakan, pengibaran bendera di dua lokasi tersebut sengaja dilakukan untuk menanamkan rasa nasionalisme dengan cara yang dekat dengan dunia anak muda.

“Tujuan utama dari pengibaran bendera di dua lokasi ini adalah untuk memupuk rasa nasionalisme. Ini adalah cara kami, para pemuda dan pegiat alam luar ruang, dalam mengisi kemerdekaan,” kata Soraya.

Menurutnya, kecintaan terhadap Indonesia tidak harus selalu diwujudkan melalui kegiatan seremonial. Menjelajah alam sekaligus menjaganya juga menjadi bentuk penghormatan terhadap tanah air.

“Kami ingin menunjukkan bahwa cinta Tanah Air dan bangsa bisa diwujudkan dengan cara mensyukuri, mengeksplorasi, serta menjaga kelestarian alam Indonesia yang kita cintai,” lanjutnya.

Di Puncak Kepayang, semangat tersebut semakin terasa karena ekspedisi dilakukan secara gotong royong. Masyarakat lokal ikut terlibat, sementara komunitas pecinta alam menjadi penggerak utama kegiatan.

Tidak hanya mengibarkan bendera, rangkaian perjalanan juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan lanskap alam Kutim kepada publik. Setiap sudut perjalanan dan pesona Puncak Kepayang diabadikan oleh tim visual Kelana Bercerita.

Dokumentasi tersebut diharapkan tidak berhenti menjadi arsip kegiatan. Jejak visual ekspedisi dapat menjadi bagian dari cerita tentang potensi wisata alam Kutim yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat luas.

Kegiatan tersebut juga menunjukkan bahwa promosi wisata tidak selalu harus berlangsung dalam bentuk festival besar. Sebuah ekspedisi komunitas, ketika dikemas dengan semangat konservasi dan dipublikasikan secara baik, dapat menjadi cara sederhana untuk memperkenalkan destinasi kepada khalayak.

Terlebih, Puncak Kepayang dan Goa Kombeng menawarkan karakter alam yang berbeda. Keduanya menjadi panggung alami bagi para pemuda untuk memperingati kemerdekaan sekaligus mempererat solidaritas.

Ekspedisi tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Desa Baay, Karang Taruna Liang Kepayang, Pokdarwis Desa Baay, PT SBA, DSN Group, CV PBR hingga Karang Taruna Kabupaten Kutim.

Dukungan lintas elemen itu memperlihatkan bahwa kegiatan kepemudaan berbasis alam dapat menjadi ruang kolaborasi antara komunitas, masyarakat, pemerintah desa dan dunia usaha.

Pada akhirnya, Merah Putih yang dikibarkan di Goa Kombeng dan Puncak Kepayang bukan hanya menjadi penanda perayaan HUT ke-81 RI.

Ia menjadi simbol bahwa semangat kemerdekaan bisa tumbuh dari mana saja—termasuk dari tengah hutan, dari jalur pendakian, dan dari langkah anak-anak muda yang memilih menjelajah sekaligus menjaga alam daerahnya.

Dari pelosok Kutai Timur, mereka mengirim pesan sederhana: mencintai Indonesia bukan hanya dengan mengingat sejarah perjuangan, tetapi juga dengan merawat tanah tempat generasi hari ini berpijak.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini