

Nonton Film Jenderal Soedirman, Pelajar Kutim Diingatkan: Medan Perang Kini Ada di Dunia Digital
SANGATTA— Dulu, perjuangan dilakukan dengan senjata dan bertaruh nyawa di medan perang. Kini, generasi muda menghadapi “medan pertempuran” yang berbeda: dunia digital.
Pesan itu mengemuka dalam kegiatan nonton bareng film dokumenter perjuangan Panglima Besar Jenderal Soedirman di Gedung Serbaguna Bukit Pelangi, Sangatta, Senin (17/8/2026).
Kegiatan dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan RI tersebut dihadiri Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman, Wakil Bupati Mahyunadi, Forkopimda, guru serta pelajar SMPN 1 Sangatta Utara, SMPN 1 Sangatta Selatan dan SMKN 1 Sangatta Utara.
Bupati Ardiansyah mengatakan, kisah Jenderal Soedirman menunjukkan bahwa usia muda bukan penghalang untuk mengambil peran dan menjadi pemimpin.
“Usia muda bukan halangan untuk bisa memimpin. Yang penting karakter, disiplin, semangat patriotik dan pantang menyerah,” kata Ardiansyah.
Menurutnya, jika generasi terdahulu berjuang di medan perang, anak muda saat ini dapat meneruskan perjuangan melalui pendidikan, prestasi, kreativitas dan karya.
Wakil Bupati Mahyunadi meminta pelajar berhati-hati dalam menggunakan media sosial. Ia mengingatkan, kebebasan berpendapat termasuk mengkritik pemerintah tetap harus disertai tanggung jawab.
“Silakan berekspresi, silakan memberikan kritik, termasuk mengkritik pemerintah. Tetapi harus disampaikan dengan bahasa yang baik, sederhana dan mudah dipahami,” ujarnya.
Mahyunadi juga meminta pelajar berpikir sebelum mengunggah atau menulis sesuatu di media sosial.
“Pikirkan dulu apakah yang kita sampaikan itu benar, bermanfaat dan tidak menyakiti orang lain,” katanya.
Pesan tersebut diamini Ule Sumule, guru SMPN 1 Sangatta Selatan yang telah 17 tahun mengajar.
Menurut Ule, generasi muda saat ini menghadapi bentuk tantangan yang jauh berbeda dengan para pejuang kemerdekaan.
“Kalau dulu para pejuang menghadapi musuh di medan perang, anak-anak kita sekarang menghadapi tantangan dunia digital dan media sosial,” tuturnya.
Ia menilai teknologi seharusnya menjadi alat untuk belajar dan berkarya, bukan justru mengendalikan penggunanya.
“Media sosial harus digunakan untuk belajar, berkarya dan hal-hal yang positif,” tegas Ule.
Bagi Ule, semangat Jenderal Soedirman tetap relevan meski medan perjuangan telah berubah.
Senjatanya mungkin berbeda, medan tempurnya berubah, tetapi karakter pantang menyerah tetap dibutuhkan.
Melalui kegiatan tersebut, kisah perjuangan Jenderal Soedirman diharapkan tidak berhenti sebagai cerita sejarah. Nilai disiplin, keberanian dan pantang menyerah diharapkan menjadi bekal pelajar Kutim menghadapi tantangan zaman, termasuk derasnya arus informasi di ruang digital.
![]()

Tinggalkan Balasan