
Kutim Kerahkan Pasukan Edukasi ke Pemukiman untuk Tekan Malaria, Empat Kecamatan Jadi Prioritas Utama
Infokaltim.com, Sangatta – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengambil langkah lebih agresif dalam memerangi malaria dengan menggandeng kekuatan terbesar yang dimiliki setiap desa: masyarakat itu sendiri.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim kini meluncurkan gerakan sosialisasi intensif yang langsung menyasar permukiman warga, terutama di daerah yang masih mencatatkan kasus tertinggi. Pendekatan ini dipilih karena dianggap lebih efektif dibanding penyuluhan formal yang sering kali tidak menyentuh akar persoalan.
Plt Kepala Dinkes Kutim, Sumarno, menegaskan bahwa edukasi harus benar-benar hadir di tengah masyarakat, bukan hanya sebatas formalitas.
“Kami ingin memastikan pesan tentang bahaya malaria benar-benar dipahami. Warga perlu tahu cara mencegah dan apa yang harus dilakukan ketika gejala muncul,” terangnya.
Empat kecamatan yang menjadi fokus utama adalah Sandaran, Kaliorang, Sangkulirang, dan Karangan—wilayah yang secara epidemiologi masih menjadi penyumbang kasus tertinggi di Kutim. Di sana, petugas dan kader malaria bergerak dari rumah ke rumah menyampaikan pengetahuan dasar, mengenalkan gejala, dan memberikan panduan penanganan awal.
Dalam program ini, metode Intermittent Preventive Treatment Falciparum (IPTF) dijadikan senjata utama. Petugas lapangan dilatih menyampaikan edukasi sekaligus mendampingi kader desa agar mereka mampu menjadi penyuluh tetap di komunitas masing-masing.
“Hubungan sosial yang dekat memudahkan pesan diterima. Informasi dari tetangga atau tokoh desa sering kali lebih dipercaya,” ujar Sumarno.
Selain penyuluhan, Dinkes juga memperkuat perlindungan fisik masyarakat dengan membagikan kelambu, vitamin, dan obat anti-malaria untuk kelompok rawan—seperti pekerja hutan dan warga yang tinggal di sekitar sungai.
Seluruh puskesmas di wilayah prioritas juga diwajibkan memperbarui laporan perkembangan kasus secara rutin. Data tersebut menjadi dasar evaluasi dan pengambilan keputusan cepat ketika lonjakan kasus terdeteksi.
Sumarno optimistis, dengan kolaborasi antara petugas, kader desa, dan masyarakat, Kutim dapat menurunkan angka malaria secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
“Ini bukan pekerjaan satu instansi. Semua pihak harus bergerak bersama,” pungkasnya.
(ADV)
![]()


Tinggalkan Balasan