
Skrining Massal TBC di Sangatta, Kutim Kejar Deteksi Dini dan Putus Rantai Penularan
SANGATTA – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kutai Timur (Kutim) diwarnai aksi kesehatan. Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim menggelar skrining massal TBC di RT 35 Gang Dayung, Kelurahan Teluk Lingga, Kecamatan Sangatta Utara, beberapa waktu lalu.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menemukan kasus TBC sedini mungkin, terutama di wilayah yang memiliki indikasi risiko penularan lebih tinggi.
Kepala Dinkes Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan Kutim mendapat alokasi 118 lokus skrining dari Kementerian Kesehatan RI. Setiap lokus ditargetkan melakukan pemeriksaan terhadap sedikitnya 100 warga.
“Satu penderita TBC berpotensi menularkan penyakitnya kepada 20 orang sehat di sekitarnya. Oleh karena itu, pemerintah harus masif melakukan pelacakan,” tegas Yuwana.
Menurutnya, deteksi dini menjadi langkah penting agar penderita segera mendapatkan penanganan. Ia juga mengingatkan masyarakat bahwa TBC dapat disembuhkan apabila pasien menjalani pengobatan secara disiplin dan tidak terputus.
Ketua PPTI Kutim, Siti Robiah Ardiansyah, mengajak masyarakat untuk tidak takut menjalani pemeriksaan kesehatan. Warga yang memiliki gejala atau berisiko diharapkan segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan.
“Jangan ragu datang ke fasilitas kesehatan atau pusat pelayanan terdekat untuk mendeteksi gejala lebih awal. Jika ditemukan indikasi, pendampingan lanjutan dan seluruh proses pengobatan akan diberikan secara gratis,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, warga menjalani sejumlah tahapan pemeriksaan, mulai dari pendaftaran dan skrining awal hingga pemeriksaan lanjutan seperti rontgen dada dan pemeriksaan dahak. Sementara untuk balita, dilakukan pemeriksaan tuberkulin atau Mantoux test.
Bagi warga yang terdeteksi positif, petugas akan melakukan pendampingan dan memasukkan pasien ke dalam program pengobatan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya Kutim memperluas pelacakan kasus sekaligus memutus rantai penularan TBC hingga ke tingkat permukiman.
Melalui skrining yang menyasar langsung masyarakat, Pemkab Kutim ingin memastikan penanganan TBC tidak hanya menunggu pasien datang berobat, tetapi dilakukan secara aktif untuk menemukan kasus lebih awal dan mempercepat pengobatan.
![]()


Tinggalkan Balasan