
Dinkes Kutim Benahi Sistem Rujukan, Fasyankes Diminta Satu Standar Layani Pasien
SANGATTA — Pelayanan kesehatan di Kutai Timur (Kutim) didorong semakin terintegrasi. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim mempertemukan rumah sakit, puskesmas dan klinik untuk menyamakan langkah dalam meningkatkan mutu layanan sekaligus memperkuat sistem rujukan pasien.
Upaya tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan dan Penguatan Jejaring Rujukan di Ruang Damar, Gedung Serbaguna (GSG) Bukit Pelangi, Rabu (19/8/2026).
Kegiatan dibuka Kepala Dinkes Kutim dr Yuwana Sri Kurniawati dan diikuti pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) se-Kutim. Turut hadir perwakilan Dinkes Kaltim, BPJS Kesehatan Cabang Kutim serta organisasi profesi kesehatan.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kutim Siti Fatimah mengatakan, penguatan jejaring rujukan menjadi bagian penting dalam memastikan masyarakat memperoleh layanan yang aman, bermutu dan terjangkau.
“Kita mengembangkan penataan sistem rujukan nasional berbasis kompetensi. Kepatuhan terhadap indikator nasional dan pelaporan insiden keselamatan pasien menjadi tolok ukur utama,” ujarnya.
Menurutnya, sistem rujukan tidak hanya berkaitan dengan memindahkan pasien dari satu fasilitas ke fasilitas lain. Setiap fasyankes harus memahami kemampuan layanan masing-masing sehingga pasien memperoleh penanganan sesuai kebutuhan.
Sementara itu, dr Yuwana menekankan pentingnya kolaborasi antara fasilitas kesehatan pemerintah maupun swasta. Sinergi tersebut dinilai menjadi kunci agar peningkatan mutu pelayanan dapat dirasakan masyarakat secara merata.
Ia juga menyoroti perubahan sistem kelas rumah sakit yang kini lebih menekankan kompetensi pelayanan, termasuk pemenuhan 24 jenis pelayanan dan standar alat kesehatan.
Di sisi lain, Dinkes Kutim mendorong seluruh fasyankes mendukung lima program prioritas kesehatan daerah. Program tersebut mencakup pemenuhan tenaga kesehatan, peningkatan pendidikan dan insentif, pembangunan serta perbaikan fasilitas kesehatan, kampanye gizi melalui gerakan minum susu dan makan buah, hingga percepatan penurunan stunting.
Program Pelayanan Terpadu dan Serentak untuk Menuntaskan Stunting (Pentassuting) juga menjadi perhatian. Dinkes meminta seluruh jejaring kesehatan ikut mengambil peran dalam mendeteksi dan menangani kasus stunting.
Dengan pertemuan tersebut, Dinkes Kutim berharap koordinasi antara fasyankes semakin solid, sehingga akses pelayanan, proses rujukan dan keselamatan pasien dapat berjalan lebih cepat, tepat dan terintegrasi.
![]()


Tinggalkan Balasan