
Preservasi Kearifan Lokal: Lomba Menyumpit Uji Ketangkasan dan Kebersamaan di Festival UFAH 2026
KOMBENG — Gelora pelestarian olahraga dan permainan tradisional kembali bergaung di Desa Miau Baru, Kecamatan Kombeng. Dalam rangkaian Festival UFAH 2026, ajang Lomba Menyumpit menjadi salah satu atraksi utama yang memikat perhatian warga dan para tamu undangan, Minggu (9/8/2026).
Tak sekadar menjadi penonton, Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman bersama Wakil Bupati Mahyunadi dan jajaran Forkopimda turun langsung ke lapangan untuk memegang sumpit (sipet) dan menguji ketepatan bidikan ke papan sasaran.
Menyumpit merupakan seni ketangkasan leluhur masyarakat Dayak yang menggunakan nafas dan konsentrasi tinggi. Dahulu digunakan sebagai sarana berburu dan bertahan hidup, kini menyumpit ditransformasikan menjadi cabang olahraga tradisional yang sarat akan edukasi karakter bagi generasi muda:
Lomba atraksi sumpit juga melatih fokus dan kedisiplinan, dengan melatih menggabungkan kontrol pernapasan, ketenangan mental, dan presisi bidikan. Selain itu sumpit menjadi sarana pengenalan kearifan lokal agar alat dan teknik tradisional tidak tergerus teknologi modern.
“Adat dan budaya itu adalah bagian terpenting daripada modal dalam membangun Kutai Timur. Mengingat daerah kita dihuni masyarakat multi-etnis, budaya menjadi perekat sosial yang sangat kuat,” tegas Bupati Ardiansyah Sulaiman.
Kehadiran jajaran pimpinan daerah dalam ajang menyumpit ini menegaskan komitmen Pemkab Kutim terhadap pelestarian olahraga tradisional berbasis komunitas. Festival UFAH 2026—yang juga dimeriahkan pementasan sembilan tarian otentik Kayan Umaq Lekan—membuktikan bahwa kemajuan suatu daerah dapat berjalan seiring dengan penghormatan terhadap identitas dan tradisi leluhur.
![]()


Tinggalkan Balasan