
Pemkab Kutim Turun ke Pemukiman Cari Anak Putus Sekolah
Infokaltim.com, Sangatta – Di tengah upaya meningkatkan kualitas pendidikan, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kembali menajamkan fokus pada sektor pendidikan nonformal lewat penguatan program Cap Jempol, sebuah layanan jemput bola yang dirancang untuk mencegah anak-anak terputus dari dunia sekolah.
Alih-alih menunggu laporan dari sekolah atau keluarga, Cap Jempol bergerak aktif ke permukiman, desa, dan titik-titik rawan pendidikan untuk menemukan anak yang berhenti atau berisiko berhenti belajar. Pendekatan berbasis lapangan inilah yang menurut Pemkab menjadi kunci dalam menghentikan tren putus sekolah sejak dini.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, menegaskan bahwa mekanisme jemput bola tidak dapat digantikan oleh sistem administrasi semata. “Cap Jempol adalah garda terdepan kita. Mereka bukan hanya mencari siswa yang hilang dari sekolah, tetapi mengembalikan harapan belajar,” ujarnya, Sabtu (22/11/2025).
Program ini mengandalkan kekuatan komunitas: tutor kesetaraan, fasilitator lapangan, hingga tenaga administrasi yang mendampingi proses belajar warga belajar dari awal hingga reintegrasi. Bagi anak yang memungkinkan kembali ke sekolah formal, jalur pemulihan disiapkan; sementara lainya diarahkan ke pendidikan kesetaraan dengan pendampingan intensif.
Seluruh layanan dalam Cap Jempol, mulai dari materi ajar hingga proses bimbingan, diberikan tanpa biaya. Pemerintah ingin memastikan bahwa alasan ekonomi tidak menjadi penghalang bagi anak-anak Kutim untuk melanjutkan pendidikan.
Kekuatan lain Cap Jempol terletak pada jejaringnya. Kerja sama dengan RT, perangkat desa, dan organisasi masyarakat membuat proses identifikasi jauh lebih cepat. Mereka menjadi mata dan telinga lapangan untuk melaporkan potensi putus sekolah sebelum benar-benar terjadi.
Di banyak wilayah terpencil yang minim akses pendidikan, Cap Jempol menjadi solusi nyata. Para tutor menembus jalan perkebunan, pemukiman padat, hingga daerah yang belum memiliki fasilitas belajar memadai.
Pemkab Kutim menargetkan program ini mampu memberikan penurunan signifikan terhadap angka putus sekolah pada tahun berjalan. Dengan menguatkan kerja lapangan dan kolaborasi komunitas, pemerintah berharap tidak ada lagi anak yang luput dari kesempatan belajar.
Cap Jempol kini berdiri sebagai bukti bahwa kebijakan pendidikan bukan hanya tertuang dalam regulasi, tetapi hadir langsung melalui tangan para pekerja lapangan yang mengetuk pintu satu per satu demi masa depan anak-anak Kutim. (ADV)
![]()


Tinggalkan Balasan