Sabtu, 25 April 2026

Sangatta Utara Dorong Revolusi Pekarangan: Warga Diajak Ubah Lahan Sempit Jadi Sumber Pangan Baru

Infokaltim.com, Sangatta – Di tengah dinamika harga kebutuhan pokok yang tak menentu, Sangatta Utara memilih langkah berani: mengubah setiap pekarangan rumah menjadi “dapur hidup”. Melalui Program Kampung Beragam, pemerintah kecamatan mengajak warga membangun kemandirian pangan dari ruang paling sederhana yang mereka miliki.

Camat Sangatta Utara, Hasdiah Dohi, menyebut langkah ini sebagai perubahan pola pikir, bukan sekadar program tanam-menanam. Ia menekankan bahwa keluarga adalah titik paling strategis dalam menjaga ketahanan pangan sebuah wilayah.

“Kalau kemandirian pangan dimulai dari rumah, maka guncangan harga di luar tidak akan terlalu memukul,” ujar Hasdiah.

Program ini menitikberatkan pada penggunaan lahan kecil—bahkan hanya satu meter pun—untuk menanam kebutuhan dapur seperti cabai, kangkung, tomat, jahe, hingga serai. Pemerintah kecamatan turut menyediakan bibit, pendampingan, dan metode tanam sederhana yang mudah diaplikasikan warga.

Lebih jauh, Hasdiah menegaskan bahwa Kampung Beragam bukan program bantuan, melainkan gerakan pembentukan kebiasaan baru: masyarakat mandiri yang mampu memenuhi pangan dasar secara konsisten.

“Bukan soal bantuan bibitnya, tapi kebiasaan yang kita bentuk. Kalau tiap rumah punya sumber sayur sendiri, itu penghematan sekaligus perkuatan ekonomi keluarga,” jelasnya.

Gerakan ini juga diselaraskan dengan dorongan pemerintah daerah untuk memperluas pertanian pekarangan dan diversifikasi konsumsi. PKK, karang taruna, komunitas urban farming, hingga sekolah-sekolah telah dilibatkan untuk mempercepat penyebaran praktik bercocok tanam.

Tak hanya menanam, program ini memperkenalkan cara pengelolaan sampah organik menjadi kompos, sehingga warga bisa memupuk lahannya secara mandiri. Sejumlah RT bahkan menyiapkan demplot terpadu sebagai sarana belajar mengelola tanaman sayur, buah, dan tanaman obat keluarga dalam ruang terbatas.

Kampung Beragam juga dilahirkan dari kekhawatiran terhadap temuan FSVA yang masih menunjukkan kantong rawan pangan di Kutai Timur. Karena itu, program ini mengusung konsep pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA), sekaligus memperkuat ketahanan keluarga.

“Kita ingin ketahanan pangan itu tidak lagi bergantung pada pasokan luar. Dimulai dari kebun kecil warga, lalu meluas menjadi ketahanan komunal,” tambah Hasdiah.

Untuk memastikan keberlanjutan, setiap kampung akan memiliki kader pangan yang bertugas memantau perkembangan kebun warga. Tahap awal, beberapa desa akan dijadikan percontohan sebelum diterapkan lebih luas di wilayah Sangatta Utara.

Hasdiah optimistis, jika gerakan ini berjalan konsisten, hasilnya bukan hanya panen sayuran, tetapi lingkungan yang lebih hijau dan budaya hidup baru yang lebih sehat.

“Pangan mandiri itu berpengaruh langsung ke lingkungan. Rumah lebih hijau, kebutuhan dapur terpenuhi, dan masyarakat lebih tahan terhadap krisis,” tutupnya.

Dengan mengubah pekarangan menjadi ruang produksi, Sangatta Utara tengah memulai revolusi kecil yang dapat membawa dampak besar: kedaulatan pangan berbasis rumah tangga. (ADV)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini