
Kasus HIV Bertambah, 104 Kasus Baru Ditemukan di Kutim
Infokaltim.com, Sangatta – Lonjakan temuan kasus HIV di Kabupaten Kutai Timur sepanjang 2025 bukan hanya soal angka. Di balik 104 kasus baru yang tercatat hingga Agustus, pemerintah melihat tanda penting: semakin banyak warga berani memeriksakan diri dan membuka akses pada penanganan lebih cepat.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kutim, Sumarno, menegaskan bahwa kenaikan angka tidak bisa dibaca sebagai kegagalan. Menurutnya, justru ini mencerminkan keberhasilan edukasi yang perlahan mengikis rasa takut dan stigma.
“Semakin banyak warga yang bersedia dites, semakin cepat rantai penularannya bisa kita putus,” katanya.
Sangatta Utara kembali menjadi wilayah dengan jumlah temuan tertinggi, sejalan dengan jumlah penduduk yang lebih besar dan tingginya mobilitas masyarakat. Namun pemerintah menilai hal itu sebagai peluang memperluas jangkauan pemeriksaan.
Untuk mendukung deteksi dini, tujuh penyuluh HIV dikerahkan ke sekolah-sekolah, komunitas pemuda, hingga tempat hiburan malam. Mereka menyampaikan pengetahuan dasar tentang risiko perilaku seksual tidak aman, cara penularan, serta pentingnya pemeriksaan berkala.
Di lapangan, kelompok dengan interaksi sosial tinggi seperti sopir angkutan dan pekerja malam menjadi sasaran skrining berulang. Pemeriksaan dilakukan hingga tiga kali dengan alat tes berbeda agar hasil benar-benar akurat dan tidak menimbulkan keraguan.
“Metode berlapis ini penting untuk memastikan setiap hasil bisa dipertanggungjawabkan,” kata Sumarno.
Fokus Dinas Kesehatan tidak berhenti pada deteksi dini. Setelah seseorang dinyatakan positif, petugas langsung melakukan pelacakan kontak, memastikan individu terkait mendapatkan pemeriksaan dan pendampingan sedini mungkin. Terapi HIV juga tersedia dan wajib dikonsumsi rutin agar pasien dapat menjalani kehidupan normal.
Yang membuat program penanggulangan HIV di Kutim berbeda adalah pelibatan penyintas sebagai kader edukasi. Dalam berbagai sesi tatap muka, mereka membagikan kisah pribadi mengenai proses pengobatan, perjuangan mental, hingga titik ketika mereka kembali sehat.
“Kesaksian para penyintas ini sangat membantu. Mereka memberi harapan dan keberanian kepada warga lain,” ungkap Sumarno.
Pendekatan yang lebih humanis ini telah memberi warna baru: warga yang dulu takut diperiksa kini lebih terbuka, sementara stigma yang selama ini membayangi mulai memudar. Pemerintah berharap pola ini terus berkembang agar penyebaran HIV dapat ditekan dan masyarakat tidak lagi ragu mengambil langkah pertama memeriksakan diri.
(ADV)
![]()


Tinggalkan Balasan