Senin, 15 Juni 2026

Bahasa Kutai Masuk Pembelajaran Mulok: Ikhtiar Menjaga Identitas di Tengah Arus Zaman

Infokaltim.com, Sangatta – Di tengah derasnya arus budaya global, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur memilih mengambil langkah yang lebih berani: membawa Bahasa Kutai kembali ke ruang kelas sebagai identitas yang harus diwariskan, bukan sekadar dikenang. Bagi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim, bahasa daerah bukan hanya warisan, tetapi fondasi karakter generasi muda.

Sekretaris Disdikbud Kutim, Irma Yuwinda, mengungkapkan bahwa Bahasa Kutai kini telah menjadi muatan lokal (Mulok)  wajib di berbagai jenjang pendidikan. Mulai dari kelas 1 hingga kelas 6 SD, kebijakan ini sudah berjalan penuh—bahkan jenjang SMP telah ikut menerapkan pembelajaran bahasa daerah tersebut.

“Kita menerapkan muatan lokal kita adalah Bahasa Kutai. Untuk SD sudah dari kelas 1 sampai 6, dan untuk SMP pun sudah berjalan,” ujar Irma.

Namun langkah ini bukan sekadar menambah mata pelajaran di rapor siswa. Pemerintah ingin menghadirkan Bahasa Kutai sebagai bagian dari kebanggaan, bukan sesuatu yang terdengar asing bagi anak-anak di tanah kelahirannya sendiri.

Irma menegaskan bahwa Bahasa Kutai tidak diajarkan sambil lalu. Ia telah masuk dalam kurikulum resmi, dengan standar pembelajaran yang jelas dan terukur. “Sudah masuk ke dalam kurikulum juga terkait pembelajaran Bahasa Kutai,” tambahnya.

Untuk memastikan kualitas belajar mengajar tetap terjaga, pemerintah mempersiapkan guru-guru khusus yang telah mengikuti bimbingan teknis (BIMTEK) dari Balai Bahasa Provinsi. Bahkan, buku ajar Bahasa Kutai juga sudah diterbitkan sebagai pegangan resmi.

Bagi Irma, kebijakan ini merupakan bagian dari upaya besar melahirkan generasi yang tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri. Anak-anak Kutai Timur bukan hanya harus cerdas dan berprestasi, tetapi juga mengetahui dari mana mereka berasal—bahasa apa yang dituturkan orang tua, nilai apa yang diwariskan nenek moyang.

“Penguatan budaya lokal harus berjalan berdampingan dengan peningkatan kualitas guru dan siswa,” tegasnya.

Dengan langkah ini, Kutai Timur tak hanya mengajar bahasa, tetapi juga memperkenalkan jati diri. Sebuah langkah kecil yang diharapkan menjadi pondasi besar bagi masa depan kebudayaan daerah.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini