Minggu, 26 April 2026

Dari Pelosok Muara Bengkal, Kutim Bangun Gerakan Kolektif Lawan TBC

MUARA BENGKAL—Gerakan pemberantasan penyakit menular, tuberkulosis (TBC) di Kutai Timur (Kutim) bergerak dari akar rumput. Melalui program Active Case Finding (ACF) dan dukungan lintas sektor, pemerintah daerah menggandeng masyarakat, kader desa, dan sektor swasta dalam membangun kesadaran serta deteksi dini penyakit menular ini.

Di Desa Benua Baru, Kecamatan Muara Bengkal, mobil radiografi toraks parkir di halaman Puskesmas Pembantu. Warga dari berbagai dusun antre tertib mengikuti pemeriksaan. Program ini merupakan pendekatan kolaboratif Pemkab Kutim dalam memerangi TBC, dengan melibatkan Dinas Kesehatan, District Public Private Mix (DPPM), hingga organisasi kemasyarakatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kutim, Bahrani Hasanal, mengatakan, deteksi dini TBC merupakan langkah penting agar penularan bisa segera dihentikan. “Satu penderita TBC bisa menularkan ke 10 orang. Kalau tidak kita tangani sekarang, eliminasi TBC pada 2030 bisa jadi angan-angan saja,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPPM Kutim, Siti Robiah, menekankan pentingnya edukasi masyarakat melalui jaringan kader desa dan PKK. “Penyuluhan harus menjangkau rumah ke rumah. Jangan biarkan masyarakat hanya tahu TBC dari cerita orang. Kita bawa faktanya. Kita ajarkan pencegahannya,” kata Siti.

Selain penyuluhan, Siti juga membagikan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi peserta pemeriksaan. Ia berharap gerakan sosial melawan TBC ini dapat melibatkan lebih banyak unsur masyarakat, termasuk sekolah dan tokoh adat.

Camat Muara Bengkal, Nur Hadi, mengapresiasi antusiasme masyarakat yang mulai sadar pentingnya pemeriksaan kesehatan. Sebanyak dua ratus warga mengikuti kegiatan ini dalam sehari. “Artinya, kesadaran mulai tumbuh. Kalau bisa rutin setiap tahun, pasti akan sangat berdampak,” ujarnya.

Lewat sinergi antara tenaga medis, kader desa, dan dukungan pemerintah, Kutim menegaskan bahwa perang melawan TBC bukan hanya urusan medis, melainkan gerakan sosial menuju masyarakat yang lebih sehat dan tangguh.

Upaya kolaboratif berantas TBC ini dipermudah dengan kehadiran mobil radiografi toraks ke pelayanan terdekat masyarakat. “Teknologi ini penting. Dengan toraks digital, kita bisa tahu lebih awal siapa yang terinfeksi, bahkan sebelum gejalanya muncul parah. Ini menyelamatkan banyak nyawa,” ujar Ivan Hariyadi, Kepala Seksi P2PM Dinas Kesehatan Kalimantan Timur. (ADV/ProkopimKutim/IK)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini