
Fashion Show Berbahan Barang Bekas, Cara Siswa SMAK Santo Yoseph Sangatta Peduli Sampah
Infokaltim.com, Sangatta – Masalah sampah rumah tangga khusus sampah plastik di Kota Sangatta, Kutai Timur masih menjadi tantangan tersendiri. Soal penanganan juga menjadi perhatian serius pemerintah, meski daerah sudah memiliki tempat pengolahan sampah terpadu.
Karena itu, daur ulang menjadi alternatif untuk penanganan sampah plastik yang sulit terurai. Sebagai bentuk kepeduliannya terhadap masalah tersebut, SMAK Santo Yoseph Sangatta pada hari Jumat (13/9/2024) menggelar fashion show pakaian adat dalam Puncak perayaan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Dengan memanfaatkan sampah plastik siswa-siswi di SMAK Santo Yoseph Sangatta berhasil membuat kreasi pakaian adat tradisional dari berbagai daerah di Indonesia. Kemudian berbagai variasi busana tersebut di dipamerkan oleh para siswa, yang berlenggak lenggok di pelataran sekolah, lengkap dengan penontonnya.
Walaupun bahan baku busana berasal dari barang bekas, para siswa tampil dengan sangat percaya diri. Dari beberapa model terlihat dari dua orang siswa dan siswi memakai pakaian dengan dasar hitam dilengkapi dengan corak bunga dan mahkota emas di kepala menambah kesan unik pakaian tersebut.
Diketahui kedua pelajar itu tidak lain Bernadeta dan Yolisio yang memakai pakaian adat Pulau Flores Indonesia.
Bernadeta mengucapkan apresiasi dan terimakasih kepada SMAK Santo Yoseph Sangatta atas pembelajaran melalui program P5 sehingga mendorong daya pikir dan kreativitas kelompoknya sehingga bisa menampilkan karya terbaik pakaian adat yang dipakai dibuat dari sampah plastik.
“Pembelajaran seperti ini mengajarkan kami anak muda atau remaja-remaja untuk bisa mendaur ulang barang bekas bisa dikemas menjadi karya seperti ini (baju adat) atau barang lain,” katanya.

Tak hanya itu, Bernadeta mengutarakan pesannya jika untuk menggapai sesuatu dalam kelompok, diperlukan kekompakan atau gotong-royong dan tak seharusnya dibebankan kepada individu ataupun beberapa orang saja.
Anak muda yang kompak bisa menyelesaikan masalah dan menemukan solusi baru untuk mengejar kepentingan bersama. Hal ini menjadi tantangan dirinya bersama kelompok dalam menampilkan karya P5.
Sementara I Ketut Suyatre Kepala Sekolah SMAK Santo Yoseph Sangatta mengatakan fashion show pakaian adat merupakan
puncak pelaksanaan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema “Bhineka Tunggal Ika” dengan proyek membuat pakaian adat dari berbagai suku menggunakan barang bekas.
“Harapannya adalah anak-anak bisa menumbuhkan kreativitasnya dan proses ini bagian dari membentuk diri menjadi orang yang tangguh menghadapi tantangan kedepan,” pungkasnya.




![]()


Tinggalkan Balasan