Minggu, 23 Agustus 2026

Sangsel dan Teluk Pandan Tampil Terbaik, B2SA Kutim Buktikan Pangan Lokal Bisa Jadi Menu Unggulan

SANGATTA – Persaingan kreativitas mengolah pangan lokal dalam Lomba Kreasi Menu Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) 2026 berakhir dengan dua kecamatan tampil sebagai yang terbaik.

Kecamatan Sangatta Selatan keluar sebagai juara pertama kategori kreasi menu sarapan pagi, sementara Kecamatan Teluk Pandan menjadi yang teratas pada kategori kudapan atau snack.

Pengumuman pemenang berlangsung di Gedung Wanita Bukit Pelangi, Selasa (11/8/2026), setelah seluruh peserta dari berbagai kecamatan di Kutim menunjukkan kreasi terbaik mereka dalam mengolah bahan pangan menjadi sajian yang memenuhi prinsip B2SA.

Hasil penilaian dewan juri menunjukkan persaingan pada kategori sarapan berlangsung sangat ketat. Sangatta Selatan melalui nomor peserta 15 mengumpulkan nilai 2.442 dan berhak menempati posisi pertama.

Posisi kedua ditempati Sangatta Utara dengan nilai 2.434. Selisih hanya delapan poin menunjukkan kualitas sajian antarpeserta berada pada level yang relatif berimbang.

Sementara Muara Bengkal meraih juara ketiga dengan nilai 2.420. Untuk kategori juara harapan, Bengalon berada di posisi pertama dengan nilai 2.410, disusul Sangatta Selatan melalui nomor peserta 16 dengan nilai 2.371, serta Sangkulirang dengan nilai 2.290.

Dewan juri juga memberikan predikat juara favorit kepada Kecamatan Kombin.

Ketatnya perolehan nilai tersebut memperlihatkan bahwa lomba B2SA tidak sekadar menilai kemampuan memasak. Komposisi bahan, keberagaman pangan, kandungan gizi, keamanan makanan hingga kreativitas penyajian menjadi bagian yang ikut menentukan hasil akhir.

Berbeda dengan kategori sarapan, Kecamatan Teluk Pandan justru tampil paling menonjol pada kategori kudapan.

Melalui nomor peserta 08, Teluk Pandan meraih nilai 2.522 sekaligus merebut juara pertama. Batu Ampar berada di posisi kedua dengan nilai 2.515, hanya terpaut tujuh poin.

Muara Wahau kemudian menempati posisi ketiga dengan nilai 2.398.

Untuk kategori juara harapan, Karangan meraih posisi pertama dengan nilai 2.371. Selanjutnya Muara Ancalong berada di urutan harapan kedua dengan nilai 2.350 dan Long Mesangat menjadi juara harapan ketiga dengan nilai 2.330.

Dari hasil tersebut, terlihat bahwa pengolahan bahan pangan lokal menjadi salah satu kekuatan peserta. Bahan yang mudah ditemukan di sekitar masyarakat dapat dikreasikan menjadi sajian yang menarik tanpa mengesampingkan aspek gizi.

Salah seorang dewan juri, Chef Joko dari Hotel Royal Victoria, menjadi bagian dari tim yang melakukan penilaian terhadap kreasi peserta pada dua kategori tersebut.

Keputusan dewan juri kemudian dituangkan dalam surat keputusan dan ditetapkan pada 11 Agustus 2026. Hasil penilaian tersebut bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Di balik persaingan antarkecamatan, lomba B2SA membawa pesan yang lebih besar. Kegiatan ini menjadi sarana untuk memperkenalkan pola konsumsi pangan yang sehat kepada masyarakat melalui kreasi yang dapat dipraktikkan di rumah.

Menu sarapan dan kudapan yang ditampilkan peserta menunjukkan bahwa makanan bergizi tidak selalu harus mahal. Bahan pangan yang tersedia di daerah pun dapat menjadi sumber makanan keluarga apabila diolah secara tepat.

Hal tersebut sejalan dengan tujuan pelaksanaan lomba B2SA yang tidak hanya mendorong kreativitas kader TP PKK, tetapi juga meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pangan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman.

Pemanfaatan bahan lokal juga membuka peluang lain. Ketika sebuah bahan pangan mampu diolah menjadi produk dengan tampilan menarik, cita rasa yang baik dan nilai gizi yang memadai, produk tersebut berpotensi dikembangkan lebih jauh menjadi bagian dari usaha masyarakat.

Dengan demikian, panggung perlombaan B2SA dapat menjadi titik awal untuk memperkenalkan pangan lokal Kutim kepada masyarakat dalam bentuk yang lebih kreatif.

Bagi keluarga, pesan yang dibawa pun sederhana: menu bergizi bisa dimulai dari dapur sendiri, dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar.

Sementara bagi kader PKK, kemenangan bukan menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Kreasi yang telah dibuat diharapkan dapat dibawa pulang, diperkenalkan kepada masyarakat, dan diterapkan dalam pola konsumsi keluarga sehari-hari.

Sangatta Selatan dan Teluk Pandan akhirnya berdiri di posisi teratas. Namun, dari seluruh sajian yang dipertandingkan, pesan yang ingin ditinggalkan jauh lebih luas—bahwa pangan lokal Kutai Timur memiliki potensi besar untuk menjadi menu sehat keluarga sekaligus membuka peluang ekonomi jika diolah dengan kreativitas.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini