
Mobil Layanan Disdukcapil Kutim Belum Tangguh untuk Medan Berat, tetapi Akses Pelayanan Kini Menjemput Warga Lewat Banyak Jalur
Infokaltim.com, Sangatta – Mobil pelayanan keliling milik Disdukcapil Kutai Timur kembali menjadi sorotan, bukan karena ketidaksiapannya, tetapi karena perannya yang kini berubah di tengah pesatnya transformasi layanan kependudukan digital. Meski hadir sebagai bantuan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pada 2021–2022, mobil tersebut dinilai tidak sepenuhnya mampu menjangkau medan berat di wilayah Kutim yang luas dan beragam.
Kepala Disdukcapil Kutim, Jumeah, mengakui keterbatasan itu secara terbuka. “Mobil ini memang dipakai untuk pelayanan, misalnya saat Car Free Day. Tapi kondisi mobil kurang cocok dibawa ke daerah jauh atau medan berat. Idealnya pakai tipe Hilux, tapi kan tidak ada mobil pelayanan model seperti itu,” ujarnya.
Namun bagi Disdukcapil Kutim, keterbatasan armada bukan alasan untuk membatasi pelayanan. Justru, layanan kependudukan kini bergerak melalui pendekatan multi-channel yang memungkinkan masyarakat mengakses dokumen tanpa bergantung pada satu moda pelayanan saja.
“Pelayanan setiap hari tetap ada di kantor Disdukcapil, di kecamatan, dan juga melalui petugas registrasi desa. Bahkan banyak layanan sudah bisa diurus lewat handphone. Jadi memang semua sekarang serba elektronik,” jelas Jumeah.
Mobil keliling akhirnya difungsikan sebagai dukungan tambahan, bukan tumpuan utama. Pada momen-momen tertentu seperti Car Free Day, kendaraan ini tampil sebagai “gerai berjalan” yang mendekatkan layanan kepada warga kota.
Sementara itu, masyarakat di daerah dengan akses sulit tetap mendapatkan layanan melalui jalur lain: kecamatan yang sudah berfungsi sebagai ujung tombak pelayanan, serta petugas desa yang ditugaskan untuk mencatat dan menyampaikan dokumen kependudukan secara berkala.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Disdukcapil Kutim tidak lagi bertumpu pada satu sarana fisik, melainkan membangun ekosistem pelayanan yang bisa diakses dari berbagai titik—kantor, kecamatan, desa, hingga layar ponsel.
Dengan model ini, Kutai Timur bergerak menuju pelayanan kependudukan yang lebih lincah, adaptif, dan tidak terhambat medan. Sebuah arah baru di mana akses bukan lagi tentang roda kendaraan, tetapi tentang kemudahan yang bisa dijangkau dari mana saja. (ADV)
![]()


Tinggalkan Balasan