
Bupati Kutim Kritik Sistem OPA PAMA: “Manusia Bukan Mesin yang Diukur dari Jam Tidurnya”
Infokaltim.com, Sangatta — Gelombang keluhan dari karyawan PT Pamapersada Nusantara (PAMA) akhirnya sampai ke telinga Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman. Penyebabnya bukan soal upah atau jam kerja, tetapi soa jam tidur.
Sistem Operator Personal Asisten (OPA), teknologi pengawas pola tidur berbasis perangkat pintar, kini jadi sorotan. Sistem ini mewajibkan pekerja tidur minimal 5 jam 31 menit setiap hari. Kurang dari itu, mereka dilarang turun ke lapangan dengan alasan keselamatan kerja.
Namun aturan yang tampak “sehat” itu justru memunculkan masalah baru: pekerja merasa kehilangan ruang pribadi. Waktu bersama keluarga berkurang, kehidupan sosial terganggu, bahkan urusan usaha sampingan terpotong.
Bupati Kutim langsung memberi respons tegas.
“Cobalah dievaluasi. Jangan karena kurangnya jam tidur mempengaruhi kesempatan bekerja di lapangan,” katanya.
Menurutnya, efektivitas kerja tidak bisa diukur semata dari lamanya tidur.
“Saya saja sehari hanya tidur 3 jam, itu sudah terlama. Tapi saya tetap bisa bekerja seharian,” ucap Ardiansyah memberi contoh.
Dari gedung legislatif, kritik juga datang. Ketua DPRD Kutim, Jimmy, menilai sistem OPA mengarah pada pelanggaran privasi. Aktivitas personal yang terekam perangkat dianggap melampaui batas wajar pengawasan.
“Kesannya pekerja diperlakukan seperti setengah robot,” ujar Jimmy.
Di tengah sorotan publik, PT PAMA diminta untuk meninjau kembali sistem tersebut. Bukan hanya demi kenyamanan, tetapi juga untuk menjaga martabat pekerja sebagai manusia yang punya keluarga, waktu pribadi, dan kehidupan sosial.
Evaluasi dilakukan bukan untuk menolak teknologi, tetapi memastikan bahwa inovasi tidak menggerus sisi kemanusiaan para pekerja. Dengan revisi kebijakan, karyawan diharapkan dapat bekerja produktif tanpa harus memilih antara keselamatan dan waktu untuk hidup.
(ADV)
![]()


Tinggalkan Balasan