
Dorong Penurunan Stunting, DPPKB Kutim Petakan 19 Ribu Keluarga Berisiko
SANGATTA – Upaya menekan angka keluarga berisiko stunting di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memasuki tahap yang lebih serius. Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim memastikan bahwa intervensi kini tidak hanya menyasar anak, tetapi seluruh faktor keluarga.
Kepala DPPKB Kutim Achmad Junaidi menjelaskan bahwa Kutim sedang bekerja keras menurunkan jumlah keluarga berisiko stunting dari 19 ribu menjadi 11 ribu sesuai target Peraturan Bupati.
“Stunting bukan hanya persoalan gizi. Ini juga berkaitan dengan pengasuhan, kondisi rumah, pendidikan, hingga ketersediaan air bersih. Karena itu kita memakai pendekatan keluarga,” jelas Junaidi.
Ia mengungkapkan, analisis berbasis data KRS (Keluarga dengan Risiko Stunting) dilakukan untuk menilai faktor “4T” yang memicu risiko stunting. Yang dimaksud 4T adalah Terlalu Dekat (jarak kelahiran), Terlalu Muda (usia ibu melahirkan), Terlalu Banyak (jumlah anak), dan Terlalu Tua (usia ibu melahirkan). Berdasarkan catatan DPPKB, dua kecamatan menjadi penyumbang tertinggi angka keluarga berisiko, Sangatta Utara dan Bengalon.
Selain intervensi pada keluarga muda, DPPKB juga terus mendorong edukasi KB modern untuk menekan risiko kelahiran yang terlalu dekat maupun terlalu banyak. Tim pendamping keluarga dilibatkan dalam sosialisasi di lapangan.
Program penurunan stunting ini turut diperkuat melalui kolaborasi lintas perangkat daerah. Program 1.000 RLH digandeng untuk memastikan sanitasi dan sirkulasi udara yang layak bagi keluarga sasaran. PDAM juga berkomitmen memberikan pemasangan air bersih gratis bagi masyarakat desil 1–4, sementara Disnakertrans membuka peluang 50.000 lapangan kerja bagi warga.
“Kita ingin hasil nyata. Stunting hanya bisa ditekan jika semua pihak terlibat. Keluarga harus sehat dari aspek fisik, lingkungan, dan ekonomi,” ujar Junaidi. (ADV/ProkopimKutim/IK)
![]()


Tinggalkan Balasan