
Keterbatasan Teknologi dan SDM jadi Masalah Pengembangan Energi Baru dari Limbah Sawit di Kutim
SANGATTA —Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim) berupaya mengubah limbah sawit menjadi energi baru terbarukan (EBT) menghadapi sejumlah kendala teknis di lapangan. Meski potensinya besar, belum semua pabrik kelapa sawit memiliki teknologi dan sumber daya manusia (SDM) yang memadai untuk mengolah limbah cair menjadi biogas.
Hal itu terungkap dalam kegiatan diskusi bertema Pemanfaatan Limbah Sawit Menjadi Energi Baru dan Terbarukan yang digelar Bagian Sumber Daya Alam (SDA) Sekretariat Kabupaten Kutim, diikuti PLN, pelajar, mahasiswa, dan pemerhati lingkungan.
Manager Biogas dan Power Plant PT PMM, Joko Pratomo, menjelaskan bahwa volume limbah sawit di Kutim sangat tinggi. Sayangnya, tidak semua pabrik memiliki akses ke teknologi modern untuk mengolahnya. “Investasinya besar dan keterbatasan SDM menjadi kendala utama,” ujarnya.
Selain itu, Joko menyebut persoalan lingkungan seperti potensi pencemaran air, bau tak sedap, dan perizinan turut memperlambat implementasi. Tantangan lain muncul dari sisi distribusi
“Kalau energi dari biogas ingin dijual ke PLN, perlu jaringan listrik yang terhubung dan regulasi tarif yang mendukung. Sementara tidak semua pabrik dekat dengan jaringan nasional,” tambahnya.
Meski begitu, Joko optimistis potensi besar energi biogas di Kutim bisa dikembangkan jika ada dukungan kebijakan dan kolaborasi antara pemerintah, PLN, dan industri.
“Kita bisa menciptakan sistem produksi yang efisien dan minim limbah. Limbah cair bisa jadi listrik, bahan bakar, pupuk, bahkan air olahan. Ini akan meningkatkan daya saing produk sawit kita secara global,” pungkasnya.
Pemkab Kutim mendorong program ini karena terkait rencana pemanfaatan limbah sawit secara berkelanjutan, untuk membantu 22 desa yang belum memiliki akses listrik. (ADV/ProkopimKutim/IK)
![]()


Tinggalkan Balasan